ALANG ALANG KUMITIR
SARASEHAN ILMU KESAMPURNAAN
oleh Alimudasir
(SARASEHAN ILMU KESAMPURNAAN)
Terjemahan :
Serat Kekiyasanning Pangracutan salah satu buah karya sastra Sultan Agung raja antara ( 1613 – 1645 ).

Ini adalah keterangan Serat Suatu pelajaran tentang Pangracutan yang telah disusun oleh Baginda Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma di Mataram atas berkenan beliau untuk membicarakan dan temu nalar dalam hal ilmu yang sangat rahasia, untuk mendapatkan kepastian dan kejelasan dengan harapan dapat dirembuk dengan para ahli ilmu kasampurnaan.

Adapun mereka yang diundang dalam temu nalar itu adalah :

1. Panembahan Purbaya

2. Panembahan Juminah

3. Panembahan Ratu Pekik di Surabaya

4. Panembahan Juru Kithing

5. Pangeran di Kadilangu

6. Pangeran di Kudus

7. Pangeran di Tembayat

8. Pangeran Kajuran

9. Pangeran Wangga

10. Kyai Pengulu Ahmad Katengan

1. Berbagai Kejadian Pada Jenazah

Adapun yang menjadi pembicaraan, beliau menanyakan apa yang telah terjadi setelah manusia itu meninggal dunia, ternyata mengalami bermacam-macam kejadian pada jenazahnya dari berbagai cerita umum, juga menjadi suatu kenyataan bagi mereka yang sering menyaksikan keadaan jenazah yang salah kejadian atau berbagai macam kejadian pada keadaan jenazah adalah berbagai diketengahkan dibawah ini :

1) Ada yang langsung membusuk

2) Ada pula yang jenazahnya utuh

3) Ada yang tidak berbentuk lagi, hilang bentuk jenazah

4) Ada pula yang meleleh menjadi cair

5) Ada yang menjadi mustika (permata)

6) Istimewanya ada yang menjadi hantu

7) Bahkan ada yang menjelma menjadi hewan.

Masih banyak pula kejadianya, lalu bagaimana hal itu dapat terjadi apa yang menjadi penyebabnya.

Adapun menurut para pakar setelah mereka bersepakat disimpulkan suatui pendapat sebagai berikut :

Sepakat dengan pendapat Sultan Agung bahwa manusia itu setelah meninggal keadaan jenazahnya berbeda-beda itu suatu tanda bahwa disebabkan karena ada kelainan atau salah kejadian (tidak wajar), makanya demikian karena pada waktu masih hidup berbuat dosa setelah menjadi mayat pun akan mengalami sesuatu masuk kedalam alam penasaran. Karena pada waktu pada saat sedang memasuki proses sakaratul maut hatinya menjadi ragu, takut, kurang kuat tekadnya, tidak dapat memusatkan pikiran hanya untuk satu ialah menghadapi maut.

Maka ada berbagai bab dalam mempelajari ilmu ma’rifat, seperti yang akan kami utarakan berikut ini :

1. Pada waktu masih hidupnya, siapapun yang senang tenggelam dalam kekayaan dan kemewahan, tidak mengenal tapa brata, setelah mencapai akhir hayatnya, maka jenazahnya akan menjadi busuk dan kemudian menjadi tanah liat sukmanya melayang gentayangan dapat diumpamakan bagaikan rama-rama tanpa mata sebaliknya, bila pada saat hidupnya gemar menyucikan diri lahir maupun batin. Hal tersebut sudah termasuk lampah maka kejadiannya tidak akan demikian.

2. Pada waktu masih hidup bagi mereka yang kuat pusaka tetapi tidak mengenal batas waktunya bila tiba saat kematiannya maka mayatnya akn terongok menjadi batu dan membuat tanah perkuburannya itu menjadi sanggar adapun rohnya akan menjadi danyang semoro bumi walaupun begitu bila masa hidupnya mempunyai sifat nrima atau sabar artinya makan tidur tidak bermewah-mewah cukup seadanya dengan perasaan tulus lahir batin kemungkinan tidaklah seperti diatas kejadiannya pada akhir hidupnya.

3. Pada masa hidupnya seseorang yang menjalani lampah tidak tidur tetapi tidak ada batas waktu tertentu pada umumnya disaat kematiannya kelak maka jenaahnya akan keluar dari liang lahatnya karena terkena pengaruh dari berbagai hantu yang menakutkan. Adapun sukmanya menitis pada hewan. Walaupun begitu bila pada masa hidupnya disertai sifat rela bila meninggal tidak akan keliru jalannya.

4. Siapun yang melantur dalam mencegah syahwat atau hubungan seks tanpa mengenal waktu pada saat kematiannya kelak jenazahnya akan lenyap melayang masuk kedalam alamnya jin, setan, dan roh halus lainnya sukmanya sering menjelma menjadi semacam benalu atau menempel pada orang seperti menjadi gondaruwo dan sebagainya yang masih senang mengganggu wanita kalau berada pada pohon yang besar kalau pohon itu di potong maka benalu tadi akan ikut mati walaupun begitu bila mada masa hidupnya disertakan sifat jujur tidak berbuat mesum, tidak berzinah, bermain seks dengan wanita yang bukan haknya, semuanya itu jika tidak dilanggar tidak akan begitu kejadiannya kelak.

5. Pada waktu masih hidup selalu sabar dan tawakal dapat menahan hawa nafsu berani dalam lampah dan menjalani mati didalamnya hidup, misalnya mengharapkan janganlah sampai berbudi rendah, rona muka manis, dengan tutur kata sopan, sabar dan sederhana semuanya itu janganlah sampai belebihan dan haruslah tahu tempatnya situasi dan kondisi dan demikian itu pada umumnya bila tiba akhir hayatnya maka keadaan jenazahnya akan mendapatkan kemuliaan sempurna dalam keadaannya yang hakiki. Kembali menyatu dengan zat yang Maha Agung, yang dapat mneghukum dapat menciptakan apa saja ada bila menghendaki datang menurut kemauannya apalagi bila disertakan sifat welas asih, akan abadilah menyatunya Kawulo Gusti.

Oleh karenanya bagi orang yang ingin mempelajari ilmu ma’arifat haruslah dapat menjalani : Iman, Tauhid dan Ma’rifat.

2. Berbagai Jenis Kematian

Pada ketika itu Baginda Sultan Agung Prabu Hanyangkra Kusuma merasa senang atas segala pembicaraan dan pendapat yang telah disampaikan tadi. Kemudian beliau melanjutkan pembicaraan lagi tentang berbagai jenis kematian misalnya :

1. Mati Kisas

2. Mati kias

3. Mati sahid

4. Mati salih

5. Mati tewas

6. Mati apes

Semuanya itu beliau berharap agar dijelaskan apa maksudnya maka yang hadir memberikan jawaban sebagai berikut :

Mati Kisas, adalah suatu jenis kematian karena hukuman mati. Akibat dari perbuatan orang itu karena membunuh, kemudian dijatuhi hukuman karena keputusan pengadilan atas wewenang raja.

Mati Kias, adalah suatu jenis kematian akibatkan oleh suatu perbuatan misalnya: nafas atau mati melahirkan.

Mati Syahid, adalah suatu jenis kematian karena gugur dalam perang, dibajak, dirampok, disamun.

Mati Salih, adalah suatu jenis kematian karena kelaparan, bunuh diri karena mendapat aib atau sangat bersedih.

Mati Tiwas, adalah suatu jenis kematian karena tenggelam, disambar petir, tertimpa pohon , jatuh memanjat pohon, dan sebagainya.

Mati Apes, suatu jenis kematian karena ambah-ambahan, epidemi karena santet atau tenung dari orang lain yang demikian itu benar-benar tidak dapat sampai pada kematian yang sempurna atau kesedanjati bahkan dekat sekali pada alam penasaran.

Berkatalah beliau : “Sebab-sebab kematian tadi yang mengakibatkan kejadiannya lalu apakah tidak ada perbedaannya antara yang berilmu dengan yang bodoh ? Andaikan yang menerima akibat dari kematian seornag pakarnya ilmu mistik, mengapa tidak dapat mencabut seketika itu juga ?”

Dijawab oleh yang menghadap : “Yang begitu itu mungkin disebabkan karena terkejut menghadapi hal-hal yang tiba-tiba. Maka tidak teringat lagi dengan ilmu yang diyakininya dalam batin yang dirasakan hanyalah penderitaan dan rasa sakit saja. Andaikan dia mengingat keyakinan ilmunya mungkin akan kacau didalam melaksanakannya tetapi kalau selalu ingat petunjuk-petunjuk dari gurunya maka kemungkinan besar dapat mencabut seketika itu juga.

Setelah mendengar jawaban itu beliau merasa masih kurang puas menurut pendapat beliau bahwa sebelum seseorang terkena bencana apakah tidak ada suatu firasat dalam batin dan pikiran, kok tidak terasa kalau hanya begitu saja beliau kurang sependapat oleh karenanya beliau mengharapkan untuk dimusyawarahkan sampai tuntas dan mendapatkan suatu pendapat yang lebih masuk akal.

Kyai Ahmad Katengan menghaturkan sembah: “Sabda paduka adalah benar, karena sebenarnya semua itu masih belum tentu , hanyalah Kangjeng Susuhunan Kalijogo sendiri yang dapat melaksanakan ngracut jasad seketika , tidak terduga siapa yang dapat menyamainya

3. Wedaran Angracut Jasad

Adapun Pangracutan Jasad yang dipergunakan oleh Kangjeng Susuhunan Kalijogo, penjelasannya yang telah diwasiatkan kepada anak cucu seperti ini caranya:

“Badan jasmaniku telah suci, kubawa dalam keadaan nyata, tidak diakibatkan kematian, dapat mulai sempurna hidup abadi selamanya, didunia aku hidup, sampai di alam nyata (akherat) aku juga hidup, dari kodrat iradatku, jadi apa yang kuciptakan, yang kuinginkan ada, dan datang yang kukehendaki”.

4. Wedaran Menghancurkan Jasad

Adapun pesan beliau Kangjeng Susuhunan di Kalijogo sebagai berikut : “Siapapun yang menginginkan dapat menghancurkan tubuh seketika atau terjadinya mukjizat seperti para Nabi, mendatangkan keramat seperti para Wali, mendatangkan ma’unah seperti para Mukmin Khos, dengan cara menjalani tapa brata seperti pesan dari Kangjeng Susuhunan di Ampel Denta :

1. Menahan Hawa Nafsu, selama seribu hari siang dan malamnya sekalian.

2. Menahan syahwat (seks), selama seratus hari siang dan malam

3. Tidak berbicara, artinya membisu, dalam empat puluh hari siang dan malam

4. Puasa padam api, tujuh hari tujuh malam

5. Jaga, lamanya tiga hari tiga malam

6. Mati raga, tidak bergerak lamanya sehari semalam.

Adapun pembagian waktunya dalam lampah seribu hari seribu malam itu beginilah caranya :

o Manahan hawa nafsu, bila telah mendapat 900 hari lalu teruskan dengan

o Menahan syahwat, bila telah mencapai 60 hari, lalu dirangkap juga dengan

o Membisu tanpa berpuasa selama 40 hari, lalu lanjutkan dengan

o Puasa pati selama 7 hari tujuh malam, lalu dilanjutkan dengan

o Jaga, selama tiga hari tiga malam, lanjutkan dengan

o Pati raga selama sehari semalam.

Adapun caranya Pati Raga adalah : tangan bersidakep kaki membujur dan menutup sembilan lobang ditubuh, tidak bergerak-gerak, menahan tidak berdehem, batuk, tidak meludah, tidak berak, tidak kencing selama sehari semalam tersebut. Yang bergerak tinggallah kedipnya mata, tarikan nafas, anapas, tanapas nupus, artinya tinggal keluar masuknya nafas, yang tenang jangan sampai bersengal-sengal campur baur

MISTISISME SERAT SITI JENAR
oleh Alimudasir
(MISTISISME SERAT SITI JENAR)

Serat Seh Siti Jenar merupakan karya gubahan Raden Panji Natarata pada abad 19 Masehi yang diambil dari babad Demak karangan Pangeran Wijil dari Kadilangu. Natarata, sebelumnya pernah menulis Sejarah Jati dan Babad Demak dan dipakainya sebagai landasan dalam penulisan Serat Seh Siti Jenar, juga banyak dijadikan acuan oleh para penulis lain.

Tak dapat dielakkan berkat kepiawaian Natarata mempromosikan karya tulisannya Serat Seh Siti Jenar, menarik banyak masyarakat membacanya. Natarata barangkali menyadari bahwa, Pangeran Wijil penulis Babad Demak, dan kemudian diubah sebagian ataupun seluruh ajarannya, seperti dalam karya R. Tanoyo dalam Riwayat Walisongo, tidak menarik pembaca meski dalam bentuk prosa.

Dalam menyampaikan isi pesan, sebagai karya susastra, Natarata, memilih menggunakan bentuk serat atau tembang, dengan tambahan secara kusus tentang ngelmu kasunyatan. Ngelmu kasunyatan yang dipilihnya pun lebih condong membicarakan sangkan paraning dumadi. Atau dalam istilah filosofisnya dapat dikategorikan sebagai metafisis karena membahas ajaran tentang hakekat Tuhan dan manusia serta hubugnan antara keduanya. 16)

Kiat Natarata memasarka karya susastranya berhasil. Serat Seh Siti Jenar banyak diminati pembaca, dan bahkan menjadi pembicaraan kon-troversial tentang ajaran-ajaran yang disampaikannya dinilai menggugat kemapanan.

Karya susastra Natarata dalam Serat Seh Siti Jenar, yang juga secara harafiah memiliki kesamaan dengan Serat Suluk Wali Sango, hanya ingin menyampaikan isi petikan perdebatan para wali dengan memasukan tokoh nyentrik Siti Jenar. Dalam karyanya tersebut, Natarata secara implisit mengulas keberadaan Tuhan berserta alam semesta ciptaannya yang dianggap nyleneh dari pakem menurut tradisi sesuai dengan jamannya.

Tidak jarang ulasan Natarata dalam Serat Seh Siti Jenar, secara ontologis terasa membingungkan. Apalagi komentar-komentar yang berkaitan dengan keberadaan Allah. Selain menimbulkan kontroversi, Serat Seh Siti Jenar karya Natarata, sarat dengan ajaran mistisisme. Hal ini dapat dilihat dari cara mengungkapkan Pengada yang Ada. Melalui tokoh ciptaannya Seh Siti Jenar, ia bahkan mengikari adanya Pengada yang Ada secara frontal.

Dalam kesempatan mengemukakan pendapatnya pada muktamar para wali yang membahas tentang , tokoh Seh Siti Jenar seperti dalam kutiban Serat Suluk Wali Sana.17)

Teks Sinom 18)

… mojar Seh Siti Jenar/, apa perlune pra wali/, dadak ngun-dang iya marang jenengingwang/, [30];

Artinya :

… berkatalah Seh Siti Jenar, “Tak ada gunanya para wali masih memanggil saya [30];

Sun dudu krerehanira/, mung pada tinitah mati/, aneng donya nora lama/, nuli bari urip maning/, nadyan sri Narapati/, kang nimbali marang ingsun/, ingsun tan arsa seba/, wit ingsun urip pribadi/, tan rumasa den-uripi Sultan Demak/[31];

Artinya :

Saya kan bukan hamba mereka. Kita sama-sama akan mati, tetapi pemukiman kita di dunia ini tidak lama, segera kita akan hidup kembali. Sekalipun sang raja sendiri yang memanggil saya, saya tidak sudi menghadap, karena saya hidup dari diriku sendiri (atau, sayalah hidup itu sendiri); saya tidak merasa menerima hidup dari Sultan Demak [31];

Tan kabawah tan kaprentah/, ingsun jumeneng pribadi/, bumi langit darbekingwang/, sanadyan kang surya sasi ya darbek-sun pribadi/, mengko tekana kang ngaku/, kumawa kuma-wasa/, arsa masesa mring mami/, sun tan arsa eh Pangran Bayat wruhanta/[32];

Artinya :

Saya tidak berada di bawahnya dan tidak menerima perintah-perintahnya. Saya berada karena saya sendiri, langit dan bumi milikku, bahkan matahari dan rembulan itu milik saya pribadi. Lalu ada seseorang yang katanya berkuasa dan meraja, yang ingin mengemudikan saya. Bukan Pangeran Bayat, saya tidak sudi, ketahuilah itu baik-baik [32];

Jatine wali narendra/, pada bae lawan mami/, neng donya asipat sawa/, besuk bosok awor siti/, mulane sun tan apri/, rineh sama ning tumuwuh/, lan maning kawuruhana/, kang aran kaula gusti/, sajatine dudu sama ning maungsa/ [33];

Artinya :

Sebetulnya para wali dan raja sama saja dengan saya. Di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yang cepat juga akan menjadi busuk dan tercampur tanah. Oleh karena itu akan saya tidak sudi diperintah oleh sesama makhluk. Ketahuilah juga, apa yang dinamakan kawula-gusti tidak berkaitan dengan sese-orang manusia biasa seperti yang lain-lain [33];

Yeku wus aneng manira/, nora pisah rina wengi/, namung ing mengko kewala/, ana aran kwula gusti/, suwene ingsung mati/, benjing yen ingsun wus idup/, sirna gusti kaula/, mung kari urip pribadi/, langgeng meneng aneng anane priyangga/ [34];

Artinya :

Kawula dan gusti itu sudah ada dalam diriku, siang dan malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam Ada sendiri [34];

Eh sira Pangeran Bayat/, lamun sira tan udani/, jatine wuwus manira/, pantes lamun sira maksih/, kerem neng jaman pati/, ing kene keh kang tinemu/, lalangen warna-warna/, maneka amilangeni/ tan wruh lamun pakartine pancadriya/ [35];

Artinya :

Hai Pangeran Bayat, bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera [36];

Mung kadyangga ning supena/, tan ana nyatane kedik/, sekedap kewala sirna/, bonggane ingkang ngrakerti/, tan kadya She Siti Brit/, nora sotah kang dadyeku/ gegetun sun kalintang/, kasasar neng jaman pati/ mengko ingsun mung ngesti waluyeng gesang/ [37];

Artinya :

Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenar-an dan sebentar lagi akan lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya, tidak seperti Seh Siti Jenar. Saya tidak merasa ter-tarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan [37].

Pupuh Sinom yang terdapat di setiap baitnya, tampak terlihat [30 dan 31], selain sikap perlawanan terhadap ajaran para wali, tokoh Seh Siti Jenar menunjukkan sikap pembangkangan terhadap kemapanan dalam konteks penyebaran ajaran Islam. Bahkan Seh Siti Jenar pun mengklaim kedudukan dirinya sama dengan raja dan para wali. Ia pun mengingatkan pengertian kawula-gusti tidak terkait dengan manusia biasa [32].

Selain bait-bait yang terdapat dalam suluk Sinom, tokoh Seh Siti Jenar melalui Natarata me-njelentreh-kan pembelaan terhadap tuduhan para wali melalui Pupuh Asmarandana 19) seperti berikut ini.

Sesampunya Kyageng Pengging/, tampi sasmiteng oliya/, Pangeran Lemahbang namanya/, setyambek tyas martatama/, Kawruh muksa- ning angga/, bangkit njereng bangkit ngejum/, temah sirna marang iya [1].

Artinya :

Setelah Kyahi Ageng Pengging/, mendapatkan sasmita dari wali/, yang bernama pangeran Lemahbang/, yang hatinya penuh pengetahuan keutamaan/, pengetahuan tentang musnah-nya badan jasmani/, bangkit dan memikir-mikirkan/, dan akhir-nya membenarkan [1].

Iya janma kang kakiki/, wujud kak kiyanmil kodrat/, jumeneng anane dhewe/, Suksma manuksmeng kawula/, kawula nuks-meng Suksma/, napas sirna marang suwung/, badan lebur wor bantala/, [2].

Artinya :

Manusia yang hakiki/, berwujud hak yang memiliki kekuasaan/ ada dengan sendirinya/, Suksma masuk ke dalam hamba/, hamba masuk ke dalam Suksma/, napas hilang masuk ke dalam kekosongan/, badan hancur bercampur tanah/, [2].

Ananing Allah wit dikir/, dikir pana ing dat sipat/, asma apnga-ling Hyang Manon/, gumulung dadya antaya/, rahsa ing dhe-wekira/, iya sira iya ingsung/, mosik jumeneng dat mulya/, [3].

Artinya :

Adanya Allah itu karena dzikir/, dzikir menjelaskan dzat dan sifat, asma dan afalnya Tuhan/, digulung menjadi antaya/, dan rasa di dalam dirinya sendiri/, ya kamu ya saya/, bergerak menjadi dzat yang mulia/, [3].

Jroning ngalam kabir sahir/, kene kana nora beda/, amung manungsa anane/, Kyageng Pengging Dayaningrat/, waning-lahirken tekad/, Allah majaz wujud palsu/, kaki kene saking asma/, [4].

Artinya :

Dalam alam kabir sahir/, di sini dan di sana tidak berbeda/, yang ada hanya manusia saja/, Kyahi Ageng Pengging Daya-ningrat/, berani mengemukakan keyakinannya/, Allah itu hanya majaz atau kiasan/, wujudnya tidak ada atau palsu/, hakikatnya tidak ada yang ada hanya nama/, [4].

Dalam pupuh Asmarandhana tersebut tampak bahwa terdapat ajaran yang mengikari keberadaan Pengada yang Ada. Dalam hal ini Tuhan itu hanya nama yang diberikan oleh manusia. Hakekatnya tidak ada samasekali. Di mana-mana yang ada hanyalah manusia, tidak lain tidak bukan. Selain itu, dalam ajaran yang disebarkan melalui pupuh Asmarandhana tersebut juga dapat ditangkap mengenai kesan seolah-olah Islam dan Budha diyakini sama. Budha dan Islam itu hakekatnya hanya satu, walaupun namanya dua.

Barangkali, disitulah kegusaran para wali dan pengikutnya tersulut sehingga memfonis Ajaran Seh Siti Jenar dianggap menghina ajaran Islam. Apalagi dalam Serat Seh Siti Jenar, Natarata, secara eksplisit tampak melecehkan Islam seperti yang terlihat dalam Dhandhanggula pupuh (bait) 33 berikut ini :

Salat limang wektu puji dikir/, prastaweng tyas karsanya pribadya/, bener luput tanpa dhewe/, sadarpa gung tertamtu/, badan alus kang munah karti/, ngendi ana Hyang Suksma/, kajaba mung ingsun/, mider donya cakrawala/, luhur langit sapta bumi/, durung manggih/, Wudjudnya dat kang mulya.

Artinya :

Shalat lima waktu, puji-pujian dan dzikir/, kemauan hati maunya sendiri/, salah benar tidak sendirian/, serombongan besar tertentu/, yang memerintahkan adalah badan halus/, mana ada yang bernama tuhan/, yang ada hanyalah saya/, walaupun telah mengelilingi bumi/, belum pernah menjumpai yang bernama Tuhan.

Selain itu, Natarata dalam karyanya Serat Seh Siti Jenar, kesannya tidak konsisten. Ajaran-ajarannya sering kali bertolak belakang dengan keyakinanan yang tidakmeyakini tentang Pengada yang Ada seperti dalam pupuh Dhandanggula bait 20 berikut ini :

Wangsul ingsul dat kang nuksmeng wadi/, pangeranku sifat jalal kamal/, nora karsa salat dhewe/, nora karsa dhandhawuh/, dewong salat pakoning budi/, budi laknat musibat/, tan kena ginugu/, salin-salin perentahnya/, mencla mencle tak temeni nora dadi/, tansah ngajak durjana.

Artinya :

Kembali kepada masalah saya, Tuhan adalah dzat yang masuk ke dalam sesuatu yang misteri/, Tuhanku mempunyai sifat jalal kamal/, tidak mau shalat sendiri/, juga tidak mau memerintah/, orang shalat bukan atas suruhan budi/, budi yang terlaknat dan celaka/, tidak dapat dipercaya/, berubah-ubah perintahnya/, ,juga berganti-ganti pendirian/, kalau dipercaya tidak jadi/, selalu saja mengajak ke kedurhakaan.

white-rose

AL-BUSTAMI : AL FANA’, AL-BAQA’, DAN AL-ITTIHAD

A. Pendahuluan

Dalam makalah sederhana ini, penulis mencoba membahas keadaan dan sejarah dua sufi besar terkenal hingga nama dan sejarahnya di masa kini masih sering di bahas para sejarawan. Adalah Abu Yazid Bustami dan mansur al Hallaj dua orang sufi yang pada masanya telah menambah goresan keanekaragaman bentuk tasawuf. Bustami dengan ajaran al ittihadnya telah dikembangkan oleh Al Hallaj melalui ajarannya al hulul. Kedua bentuk ajaran ini tidak memiliki banyak perbedaan, karena Al halaj meneruskan jejak seniornya Bustami. Ideology ini pernah menebar hingga ke Asia tenggara khususnya di Indonesia. Di Indonesia tasawuf bukanlah benda asing. Pada masa sejarah tertentu ia malah telah mempribumi dan anggun. Hamzah fanzuri dan Syeikh Siti Jenar di jawa adalah dua dari sekian banyak nama sufi yang selalu saja berada pada bibir sejarah Islam Indonesia. Riwayat Syeikh Siti Jenar malahan sering disejalurkan dengan kisah-kisah Mansur Al Hallaj, walaupun ada perbedaan bobot zaman dan ungkapan kesufiannya. Namun keduanya memiliki dimensi politik dalam menerima hukuman matinya. Jika Al Hallaj terlibat ke dalam gerakan syiah garis keras Al Qaramithah sebagaimana dibuktikan dalam pengadilannya, Syeikh Siti Jenar terlibat pada penghimpunan kekuatan unutk melawan Negara Islam Indonesia Demak.

1. Abu Yazid Bustami

Abu Yazid al-Bustami (wafat 874 M) adalah seorang ahli sufi yang terkenal di
Persia sekitar abad ketiga hijriyah. Ia disebut-sebut sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan faham fana’ dan baqa’ . Nama kecilnya adalah Thaifur. Sebelum ia mendalami tasawuf ia mempelajari ilmu fiqh terutama mazhab Hanafi. Ia memperingatkan manusia agar tidak terpedaya dengan seseorang sebelum melihat sebagaimana ia melakukan perintah dan meninggalkan larangan Tuhan, menjaga ketentuan-ketentuan dan melaksanakan syari’at-Nya. Selengkapnya perkataan beliau adalah :

?? ????? ??? ??? ???? ?????? ??? ????? ?? ????? ??? ?????? ?? ??? ?????? ??? ?????? ??? ?????? ?????? ???? ?????? ????? ???????

“Kalau kamu melihat seseorang mempunyai keramat yang besar-besar, walaupun dia sanggup terbang di udara maka janganlah kamu tertipu, sebelum kamu lihat bagaimana dia mengikuti perintah syari’at dan menjauhi batas-batas yang dilarang syari’at”.
Setelah ia mendalami tasawuf, ia memunculkan faham baqa’ dan fana’, dimana apabila ia telah fana’ dan mencapai baqa’ maka keluarlah kata-kata yang ganjil yang jika tidak hati-hati memahami akan menimbulkan kesan seolah-olah Abu Yazid mengaku dirinya sebagai Tuhan . Ia sering dipandang pula sebagai sufi “yang mabuk” lantaran ia terlalu jauh mengucapkan kalimat ketuhanan dalam dirinya.
Paham ini mendapat tanggapan yang berbeda dikalangan para ulama. Banyak yang pro maupun kontra. Perbedaan sikap ini terutama dikalangan ulama sufi dan dikalangan ulama fiqh. Oleh sebab itu penulis merasa tertarik untuk membahas hal ini dalam sebuah makalah singkat yang fokusnya terutama pada tokoh pendiri, pokok-pokok ajaran dan beberapa analisa terhadap ajaran-ajarannya yang dikembangkannya.

B. Riwayat Hidup Bustami

Al-Bustami atau dalam beberapa tulisan disebut juga Bistomi, Bustomi dan Bastomi sering juga disebut Bayazid . Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur ibn Surusyam. Ia lahir diwilayah Qum di Persia Barat Laut tahun 188-261 H/804-875 M. Ia adalah putra seorang ayah yang menganut keyakinan Zoroastria. Ayahnya Isa ibn Surusyam adalah pemuka masyarakat di Biston dan ibunya dikenal sebgai zahid (orang yang meninggalkan keduniaan) dan kakaknya Surusyam sebelum memeluk Islam adalah penganut agama Majusi .
Al Bustami mempelajari ilmu fiqh terutama mazhab Hanafi lalu kemudian mendalami tasawuf. Sebagian besar kehidupan “sufi” dan “abid”nya dilaluinya di Biston. Ia selalu mendapat tekanan dari para ulama Mutakallimin (Teolog) serta
Penduduk di kota kelahirannya yang tidak mengizinkan ia tinggal menyebabkan ia terusir dari negerinya sampai akhirnya wafat pada tahun 261 H bertepatan dengan tahun 875 M .
Al-Bustami tidak meninggalkan karangan atau tulisan tetapi ia terkenal lantaran ucapan-ucapannya. Terkadang ungkapannya dipandang sebagai al-syathahat atau ungkapan ketuhanan misalnya ungkapannya :

“Maha suci Aku, Maha suci Aku, betapa besar keagungan-Ku” yang belakangan dikumpulkan dalam kitab al-Luma (buku pancaran sinar) yang ditulis oleh al-Sarraj . Setelah ia wafat para ahli sufi masih banyak mengunjungi makam al-Bustami, misalnya al-Hujwiri, bahkan sejumlah ahli sufi lainnya menaruh hormatterhadap al-Bustami meski bukan berarti mereka menerima kalimat-kalimatnya tanpa koreksi.
Pengikut al-Bustami kemuidian mengembangkan ajaran tasawufdengan membentuk suatu aliran tarikat bernama Taifuriyah yang diambil dari nisbah al-Bustami yakni Taifur. Pengaruh terikat ini masih dapat dilihat dibeberapa dunia Islam seperti Zaousfana’, Maghrib (meliputi Maroko, al-Jazair, Tunisia), Chittagong dan Bangladesh. Makam al-Bustami terletak ditengah kota Biston dan dijadikan objek ziarah oleh masyarakat. Sebagian masyarakat mempercayai sebagai wali atau orang yang memiliki kekaramatan. Sultan Moghul, Muhammad Khudabanda memberi kubahpada makamnya pada tahun 713 H / 1313 M atas saran penasehat agama sultan bernama Syaikh Syafaruddin .

C. Pokok Ajaran Tasawuf al-Bustami : al-Fana’, al-Baqa’, dan al-Ittihad

Ahli sufi berpendapat bahwa terdapat dua aliran tasawuf pada abad ketiga hijriah. Pertama,aliran sufi ynag pendapat-pendapatnya moderat, tasawufnya selalu merujuk kepada Al-Qur’an dan al-Sunnah atau dengan kata lain tasawuf yang mengacu kepada syari’at dan para sufinya adalah para ulama terkenal serta tasawufnya didominasi oleh ciri-ciri normal. Kedua, adalah aliran sufi yang terpesona dengan keadaan-keadaan fana’ sering mengucapkan kata-kata yang ganjil yang terkenal dengan nama syathahat, yaitu ucapan-ucapan ganjil yang dikeluarkan seorang sufi ketika ia berada digerbang ittihad . Mereka menumbuhkan konsep-konsep manusia melebur dengan Allah yang disebut ittihad ataupun hulul dan ciri-ciri aliran ini cenderung metafisis.
Diantara sufi yang berpendapat bahwa manusia dapat bersatu dengan Tuhan adalah Abu Yazid al-Bustami yang sekaligus dipandang sebagai pembawa faham al-Fana’, al-Baqa’, dan al-ittihad.
Dari segi bahasa al-Fana’ berarti binasa , Fana’ berbeda dengan al-Fasad (rusak). Fana’ artinya tidak nampaknya sesuatu, sedangkan Fasad atau rusak adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain . Menurut ahli sufi, arti Fana’ adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazimnya digunakan pada diri. Fana’juga berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan dan dapat pula berarti hilangnya sifat-sifat tercela .
Mustafa Zahri mengatakan bahwa yang dimaksud Fana’ adalah lenyapnya inderawi atau kebasyariahan, yakni sifat sebagai manusia biasa yang suka pada syahwat dan hawa nafsu. Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan, sehingga tiada lagi melihat alam baharu, alam rupa dan alam wujud ini, maka ia akan dikatakan Fana’ dari alam cipta atau dari alam makhluk . Selain itu Fana’ juga dapat berarti hilangnya sifat-sifat buruk lahir bathin.
Sebagai akibat dari Fana’ adalah Baqa’, secara harfiah Baqa’ berarti kekal sedangkan dalam pandangan kaum sufi, Baqa’ adalah kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Karena sifat-sifat kemanusiaan (basyariah) telah lenyap maka yang kekal dan tinggal adalah sifat-sifat ilahiyah atau ketuhanan. Fana’ dan Baqa’ ini menurut ahli tasawuf datang beriringan sebgaimana ungkapan mereka :”Apabila nampak nur ke Baqa’an, maka Fana’lah yang tiada dan Baqa’lah yangkekal”. Juga ungkapan mereka : “Tasawuf itu adalah mereka Fana’ dari dirinya dan Baqa’ dengan Tuhannya, karena kehadiran mereka bersama Allah”.
Abu Yazid al-Bustami berpendapat bahwa manusia hakikatnya se-esensi dengan Allah, dapat bersatu dengan-Nya apabila ia mampu melebur eksitensi keberadaan-Nya sebagi suatu pribadi sehingga ia tidak menyadari dirinya.
Menurut al-Qusyairi, Fana’ yang dimaksud adalah : Fana’nya seseorang dari dirinya dan makhluk lain, terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang mahkluk lain itu. Sebenarnya dirinya tetap ada dan demikian pula mahkluk lain ada, tetapi ia tidak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya .
Diantara kaum sufi ada yang berpendapat bahwa manusia dapat bersatu dengan Tuhan. Seorang sufi yang sampai pada tingkat ma’rifah akan melihat Tuhan dengaqn mata sanubarinya .
Menurut al-Syathi, proses penghancuran sifat-sifat basyariah, disebut Fana’ al-sifat dan proses penghancuran tentang irodah dirinya disebut Fana’ al-irodah serta proses penghancuran tentang adanya wujud dirinya dan zat yang lain disekitarnya disebut Fana’ al-nafs .
Apabila seorang sufi telah sampai kepada Fana’ al-nafs yaitu tidak disadarinya wujud jasmaniyah, maka yang tinggal adalah wujud rohaniahnya dan ketika itu ia bersatu dengan Tuhan secara ruhani.
Dari berbagai uraian tersebut diketahui bahwa yang dituju dengan Fana’ dan Baqa’ adalah mencapai persatuan secara rohaniah dan bathiniah dengan Tuhan, sehingga yang disadarinya hanya Tuhan dalam dirinya. Dengan demikian materimanusianya tetap ada, sama sekali tidak hancur, demikianlah juga alam sekitarnya, yang hilang atau hancur hanya kesadaran dirinya sebagai manusia, ia tidak lagi merasakan jasad kasarnya.
Al-Kalabazi (wafat 380 H) menjelaskan bahwa keadaan Fana’ itu tidak bisa berlangsung terus-menerus sebab kelangsungannya yang terus-menerus akan menghentikan organ-organ tubuh untuk melaksanakan fungsinya sebagai hamba Allah dan peranannya sebagain khalifah di muka bumi .
Bila seseorang telah Fana’ atau tidak sadar lagi tentanmg wujudnya sendiri dan wujud lain disekitarnya pada saat itulah ia sampai kepada Baqa’ dan berlanjut kepada Ittihad. Fana’ dan Baqa’ menurut sufi adalah kembar dan tak terpisahkan sebagaimana ungkapan mereka : “Siapa yang menghilangkan sifat-sifatnya, maka yang ada adalah sifat-sifat Tuhan” .
Dengan tercapainya Fana’ dan Baqa’ maka seorang sufi dianggap telah sampai kepada tingkat ittihad atau menyatu dengan yang Maha Tunggal (Tuhan) yang oleh Bayazid disebut “Tajrid Fana’ fi at- Tauhid” yaitu dengan perpaduan dengan Tuhan tanpa diantarai oleh sesuatu apapun .
Dalam ajaran ittihad, yang dilihat hanya satu wujud meskipun sebenarnya ada dua wujud yaitu Tuhan dan manusia. Karena yang dilihat dan yang dirasakan hanya satu wujud maka dalam ittihad ini bisa jadi pertukaran peranan antara manusia dengan Tuhan. Dalam suasana seperti ini mereka merasa bersatu dengan Tuhan, suatu tingkatan dimana antara yang mencinta dan yang dicintai telah menjadi satu, sehingga salah satu memanggil yang lain dengan kata-kata “Hai Aku” . Dalam keadaan Fana’ si sufi yang bersangkutan tidak mempunyai kesadaran lagi sehingga ia berbicara atas nama Tuhan.
Al-Bustami ketika telah Fana’ dan mencapai Baqa’ maka dia mengucapkan kata-kata ganjil seperti :

“ Tidak ada Tuhan melainkan aku, sembahlah aku, Maha suci aku, Maha suci aku, Maha besar aku” .
Selanjutnya diceritakan bahwa seorang lelaki lewat rumah Abu Yazid (al-Bustami) dan mengetok pintu, Abu Yazid bertanya : “Siapa yang engkau cari ?” jawabnya : “Abu Yazid”. Lalu Abu Yazid mengatakan : “Pergilah, dirumah ini tidak ada kecuali Allah yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi” .
Ittihad ini dipandang sebagai penyelewengan (inhiraf) bagi orang yang toleran, akan tetapi bagi orang yang keras berpegang pada agama hal ini dipandang sebagai suatu kekufuran. Faham ittihad ini selanjutnya dapat mengambil bentuk hulul dan wahdat al-wujud.
Ittihad juga adalah hal yang sama yang dijadikan faham oleh al-Hallaj (lahir 224 H / 858 M) dengan fahamnya al-Hulul yang berarti penyatuan meliputi : a) penyatuan substansial antara jasad dan ruh; b) penyatuan ruh dengan Tuhan dalam diri manusia; c) inkarnasi suatu aksiden dalam substansinya; d) penyatuan bentuk dengan materi pertama dan e) hubungan antara suatu benda dengan tempatnya .
Meskipun demikian terdapat perbedaan al-Hulul dengan ittihad yaitu dalam hulul, jasad al-hallaj tidak lebur sedangkan dalam ittihad dalam diri al-Bustami lebur dan yang ada hanya diri Allah. Dan dalam ittihad yang dilihat hanya satu wujud dan dalam hulul ada dua wujud yang bersatu dalam satu tubuh.
Faham sufi yang juga dekat dengan faham Ittihad ini adalah dengan faham wahdat al-wujud yang diperkenalkan oleh Ibn Araby wafat tahun 638 H/ 1240 M). Faham wahdat al-wujud ini menurut Harun Nasution adalah merupakan kelanjutan dari faham al-Hulul. Konsep wahdat al-wujud ini memahami bahwa aspek ketuhanan ada dalam tiap mahkluk, bukan hanya manusia sebagaimana yang dikatakan al-Hallaj .
Paham fana’, Baqa’, dan Ittihad menurut kaum sufi sejalan dengan konsep pertemuan dengan Allah. Fana’ dan Baqa’ juga dianggap merupakan jalan menuju pertemuan dengan Tuhan sesuai dengan Firman Allah SWT yang bunyinya :

“Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada-Nya” (Q.S. al-Kahfi, 18 : 110)
Hal yang lebih jelas mengenai proses Ittihad dapat pula kita simak melalui ungkapan al-Bustami : “Pada suatu hari ketika saya dinaikkan ke hadirat Allah, Ia berkata, “Hai Abu Yazid, mahkluk-Ku ingin melihatmu, aku menjawab, hiasilah aku dengan keesaan itu, sehingga apabila mahkluk itu melihatku mereka akan berkata :“Kami tetap melihat engkau, maka yang demikian adalah engkau dan aku tidak ada disana” .
Hal ini merupakan ilustrasi proses terjadinya Ittihad, Demikian juga dalam ungkapan Abu Yazid : “Tuhan berkata : semua mereka kecuali engkau adalah mahklukku, aku pun berkata : Aku adalah engkau, engkau adalah aku dan aku adalah engkau . sebenarnya kata-kata “Aku” bukanlah sebagai gambaran dari diri Abu Yazid, tetapi gambaran Tuhan, karena ia telah bersatu dengan Tuhan sehingga dapat dikatakan bahwa Tuhan bicara melalui lidah Abu Yazid sedang Abu Yazid tidak mengetahui dirinya Tuhan.

D. Beberapa Analisa Terhadap Ungkapan-ungkapan al-Bustami

Apabila dilihat sepintas, maka dari ungkapan-ungkapan al-Bustami dapat
dikategorikan sebagai paham yang menyimpang dari ketentuan agama seperti pernyataannya “Aku ini adalah Allah tiada Tuhan selain aku, maka sembahlah aku” yang telah dikemukakan diatas. Secara harfiah al-Bustami seakan-akan mengaku sebagai Tuhan pada saat Fana’. Namun kalau kita perhatikan kata-kata beliau dalam keadaan biasa (tidak dalam keadaan Fana’) yang mengatakan “kalau kamu lihat seseorang mempunyai keramat yang besar-besar,walaupun dia sanggup terbang di udara maka janganlahkamu tertipu, sebelum kamu lihat bagaimana dia mengikuti perintah syari’at dan dan menjauhi batas-batas yang dilarang syari’at”, maka dapat dipahami bahwa al-Bustami dalam tasawuf tidaklah keluar dari garis-garis syari’at. Memang ungkapan-ungkapan al-Bustami seakan-akan beliau mengaku dirinya Tuhan, namun sebenarnya bukan itu yang dimaksudnya, karena kata-kata itu adalah firman Tuhan yang disalurkan lewat lidah al-Bustami yang sedang dalam keadaan Fana’al-nafs. Dalam hal ini beliau menjelaskan :

“Sesungguhnya yang berbicara melalui lidahku adalah dia sementara aku telah Fana’”. Jadi sebenarnya Abu Yazid tidaklah mengaku dirinya sebagai Tuhan, namun perkataanya menimbulkan berbagai tanggapan.
Al-Tusi mengatakan : Ucapan ganji (al-Syaht) adalah ungkapan yang ditafsirkan lidah atas limpahan intuisi dari dalam relung hatinya dan dibarengi seruan . Seorang sufi yang sedang trance tidak bisa mengendalikan diri sepenuhnya sehingga sulit untuk bisa mengendalikan apa yang bergejolak dalam kalbunya dan membuat seseorang mengungkapkan kata-kata yang sulit dipahami oleh pendengarnya.
Oleh sebab itu menurut al-Tusi, bila seorang sufi sedang Fana’ dari hal-hal yang berkenaan dengan dirinya, bukan berarti ia kehilangan sifat-sifat basyariahnya sebab sifat itu tidak dapat sirna dari diri manusia. Akan sangat berbahaya dari keyakinan seorang muslim jika menganggap kefana’an adalah kefana’an sifat-sifat manusia dan ia bersifatkan sifat-sifat ketuhanan. Menurut pendapat yang mengatakan ketika Fana’ hilang sifat-sifat mereka dan masuk sifat-sifat Yang Maha Benar adalah keliru, karena dapat mengantar mereka kepada Hulul atau penyatuan manusia dengan Tuhan. Sebab Tuhan tidak Hulul dalam kalbu tetapi yang bertempat dalam kalbu adalah keimanan kepada-Nya, pembenaran kepada-Nya dan pengenalan akan dia.
Louis Massignon menyatakan bahwa ungkapan yang muncul pada seorang sufi diluar sadarnya berarti telah Fana’ dari dirinya sendiri serta kekal dalam zat Yang Maha Benar, sehingga ia mengucap dalam kalam Yang Maha Benar dan bukan ucapannya sendiri dan perkataan tersebut tidak akan terucap dalam kondisi normal bahkan akan ditolak oleh dirinya sendiri .
Al-Junaid mengatakan bahwa seorang sufi yang dalam keadaan trance tidak mengucapkan tentang dirinya sendiri tapi tentang apa yang disaksikannya yaitu Allah. Ia sangat terbuai sehingga tidak ada yang disaksikan kecuali Allah. Al-Junaidi menilai bahwa al-Bustami adalah termasuk para sufi yang tidak bisa mengendalikan diri serta tunduk pad intiusi sehingga tidak bisa menjadi panutan sufi lainnya. Demikian pula menurut Ibn Taimiyah bahwa seorang sufi yang trance dihapus saja, bukan untuk dituturkan dan dilaksanakan. Semantara itu ulama yang berpegang teguh kepada syari’at secara zhahir menuduhnya sebagai sufi kafir karena menyamakan dirinya dengan Allah dan ulama yang lain mentolerir ucapan semacam itu dianggap sebagai penyelewengan dan bukan kekafiran .
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas ternyata ungkapan-ungkapan al-Bustami disampaikan dalam keadaan Fana’ dan tidak dapat dijadikan pedoman karena diucapkan dalam keadaan tidak sadar atau tidak dalam keadaan mukallaf yangb sempurna, oleh sebab itu, tidaklah tepat kalau ia dituduh sebagai seorang sufi yang kafir. Lagi pula faham Fana’ dan Baqa’ yang ditujukan untuk mencapai ittihad itu dapat dipandang sejalan dengan konsep liqa al-arabbi.Fana’ dan Baqa’ merupakan jalan menuju perjumpaan dengan Tuhan. Hal ini sejalan dengan Firman Allah SWT pada surah Al-Kahfi ayat 110 diatas, ayat tersebut memberi isyarat bahwa Allah SWT telah memberi peluang kepada manusia untuk menemuinya, bahkan karena sudah merasa terlalu dekat dengan Tuhan al-Bustami telah merasa berittihad dengan-Nya. Konasep Fana’ dan Baqa’ ini juga di ilhami dari isyarat ayat yang berbunyi :

“Semua yang ada di bumi ini adalah binasa (26) dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (27)”. (QS. Al-Rahman, 55 : 26-27)

2. Mansur Al Hallaj

Al-Hallaj adalah tokoh yang dianggap paling controversial dalam sejarah kesufian
(mistisme) Islam. Ini berangkat dari konsep tasawuf yang ia tawarkan jauh berbeda dengan tradisi tasawuf ketika itu. Ungkapan Al-Hallaj yang mengatakan “Ana al-Haq” ( Akulah Yang Maha Besar) ditafsirkan para ulama sebagai sesuatu yang sangat jauh keluar dari garis-garis ketauhidan. Sehingga polemik pemikiran ini berakhir ditiang gantungan sebagai eksekusi terhadap Al- Hallaj.
Di kalangan cendikiawan dan pemikir Islam timbul ikhtilaf tentang substansi dari perkataan Al-Hallaj. Sebagai berasumsi bahwa ungkapan Al Hallaj tersebut adalah ajaran yang keluar dari ajaran Islam (Bid’ah). Sebab mustahil manusia dapat bersatu dengan Allah (al-Hulul). Al-Haq (Yang Maha Besar) adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.Ketika Al-Hallaj berkata “Ana al-Haq” berarti dia telah menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Inilah yang kemudian dianggap oleh penguasa Abbasiyah ketika itu sebagai justifikasi untuk menjatuhkan hukuman gantung kepada Al-Hllaj yang mereka anggap telah murtad.

E. Biografi Al-Hallaj

Al-Hallaj adalah Abu al-Mughits al-Husein bin Mansur bin Muhammad
Al-Badawi.Beliau dilahirkan sekitar tahun 244 H (858 M) di Thus dekat Baida (Parsi) , sekarang berada di wilayah Barat Daya Iran. Ia dibesarkan di Wasit dan Tustar yang dikenal sebagai tempat perkebunan kapas dan tempat tinggal para penyortir kapas .
Pada masa remaja ia menetap di Tustar dan berguru pada Sahl ibn Abdullah at-Tustariy (wafat 896 M/ 282 H), seorang sufi terkenal yang pernah belajar pada Sufyan at-Tsaury (Wafat 778 M/ 161 H) . Dua tahun kemudian ia meninggalkan gurunya at-Tastury dan pindah ke Basrah dengan alasan yang tidak jelas. Louis Massiqnon menyebutkan bahwa Sahl at-Tustury adalah guru pertama al-Hallaj dalam tasawuf yang mengajarinya tentang kecintaan dan kesederhanaan sufi, menyenangi kesunyian dan kebersihan jiwa serta tafsir al-Qur’an .
Pada tahun 271 H, Al-Hallaj melaksanakan ibada haji bersama 400 orang pengikutnya . Setelah itu ia memutuskan untuk menetap di Baghdad. Disana ia giat melakukan ceramah-ceramah dan pengajian. Sepuluh tahun kemudian ia kembali ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji kedua kalinya dan kembali lagi ke Baghdad untuk menyebarkan ajaran tentang kecintaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ajaran itu ia sampaikan di jalan-jalan dan di pasar-pasar. Selain itu dalam ceramah-ceramahnya ia sampaikan keinginannya untuk mati secara terhina ditangan kaumnya seraya berkata “Wahai kaum muslimin, selamatkan aku dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menghalalkan darahku untukmu. Maka bunuhlah aku”. Pada saat inilah ia merasa bahwa hijab-hijab Tuhan telah tersingkap yang menyebabkan dirinya dapat bertatap muka dengan sang kebenaran (al-Haq). Pada saat itu pula ia mengungkapkan perkataan yang cukup ganjil dipandang saat itu ; “Ana al Haq / I am Truth / Akulah Yang Maha Besar” .
Yang mengherankan, kata-kata ini mengilhami rakyat untuk menuntut adanya perbaikan dalam kehidupan mereka. Masyarakat menuntut khalifah akan kebesaran pengaruhnya, maka iapun ditangkap dan dipenjarakan pada tahun 910 M/ 297 H.
Kemudian Al-Hallaj berhasi keluar dari penjara dan bersembunyi di Kuzistan. Tapi tiga tahun kemudian ia kembali ditangkap dan dihadapkan pada Ali bin Isa salah seorang menteri pemerintahan Baghdad. Sehingga akhirnya pada tahun 922 M,dilangsungkan sidang pengadi
lan yang dipimpin oleh Ali bin Isa dan Hamid dengan tuduhan sebagai berikut :
1. Ajaran yang berlebihan sehingga meyakini dirinya sebagai Tuhan.
2. Keyakinan terhadap penyatuan dirinya dengan Tuhan.
3. Pendapatnya Haji tidak wajib .
Alasan-alasan yang bersifat teologis dan politis menyebabkan al- Hallaj dituntut hukuman mati pada hari selasa tanggal 26 Maret 922 M. Al-Hallaj dihukum ditiang gantungan, setelah itu kaki dan tangannya dipotong, kepalanya dipenggal dan tubuhnya disiram dengan minyak lalu dibakar dan abunya dibawa ke menara ditepi sungai Tigris .
Walaupun ia telah di eksekusi mati, tapi ajarannya banyak yang telah tersebar ditengah masyarakat melalui buku-buku yang ditulisnya. Thaha Abdul Baqi Surur menyebutkan setidaknya ada 42 buku yang telah ditulisnya, antara lain :
1. Kitab al-Ahruf al-Muhaddatsah wa al-Azaliyah wa al-Asma’al-kulliyah
2. Al-Adl wa at-Tauhid
3. Ilmu al-Baqa wa al-Fana’
4. Al-Tawasin
5. Al- Wujud wa al- Ajal
6. Dan Lain-lain .

F. Ajaran Al-Hallaj : Al-Huluul

Faham al-Huluul dapat dikatakan sebagai lanjutan atau bentuk lain dari faham
(ajaran) al-ittihad yang dipopulerkan oleh Abu Yazid al-Bustami (874 M/ 261 H). Tetapi dua konsep ajaran ini berbeda. Dalam ajaran al-ittihad, diri manusia lebur dan yang ada hanya diri Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sedangkan dalam konsep al-Huluul-nya al-Hallaj, diri manusia tidak hancur. Dalam konsep al-ittihad yang dilihat satu wujud, sedangkan dalam konsep ajaran al-Huluul disana ada dua wujud tetapi bersatu dalam satu tubuh .
Helbert W. Mason mengatakan Al-Huluul adalah penyatuan sifat ketuhanan dengan sifat kemanusiaan. Tetapi dalam kesimpulannya konsep al-Huluul-nya al-Hallaj bersifat majaziy, tidak dalam pengertian yang sebenarnya (haqiqiy) . Menurut Nashiruddin at-Thusiy, al-Huluul adalah faham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat didalamnya setelah sifst-sifat kemanusiaan yang ada didalam tubuh itu dilenyapkan .

“ Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala memilih jasad-jasad (tertentu) dan menempatinya dengan makna ketuhanan (setelah) menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan” . Menurut filsafat al-Hallaj, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mempunyai dua nature (alam) atau sifat dasar yaitu al-Lahuut (Ketuhanan) dan an-Naasuut (Kemanusiaan). Demikian pula manusia, disamping memiliki sifat kemanusiaan ia juga mempunyai sifat ketuhanan dalam dirinya . Kedua term diatas merupakan adopsi dari doktrin Kristen Syiria yang menggunakannya untuk untuk menunjukkan dua sifat Kristus. Selanjutnya al-Hallaj dalam menguraikan kesatuan Lahut dan Nasut atau antara ruh ilahiyah dan ruh insaniyah menggunakan term al-Huluul dalam pengertian Islam dengan doktrin Kristen tentang inkarnasi . Bagaimana kita dapat memahamai jalan pikiran al-Hallaj itu, khususnya ketika menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Suci itu mempunyai sifat dasar kemanusiaan?.
Tentang hal ini, Annemarie Schimmel menjelaskan bahwa menurut al-Hallaj kita harus ingat bahwa sifat dasar Tuhan terkandung sifat dasar manusia. Sifat dasar manusia itu tercermin dalam penciptaan Adam. Dari keterangan ini dapat diketahui bahwa dasar pemikiran al- Hallaj berasal dari teori penciptaan Adam.
Teori penciptaan Adam ini dapat dilihat dalam kerangka pemikiran berikut ini.
Sebelum Tuhan menciptakan makhluk ia hanya melihat diri-Nya sendiri(???? ???? ????? )
Dalam kesendiriannya itu terjadi dialog antara Tuhan dengan diri-Nya sendiri, dialog yang didalamnya tidak terdapat kata-kata ataupun huruf-huruf. Yang dilihat Allah hanyalah kemuliaan dan ketinggian zat-Nya ( ???? ????? ???? ?? ???? ).Allah Subhanahu Wa Ta’ala melihat kepada zat-Nya dan iapun cinta pada zat-Nya sendiri, cinta yang tak dapat disifatkan dan cinta inilah yang menjadi sebab wujud dan sebab dari yang banyak ini. Iapun mengeluarkan dari yang tiada (?? ????? / ex nihilo) bentuk(copy)dari diri-Nya yang mempunyaisegala sifat dan namanya. Bentuk copy itu adalah Adam. Setelah menjadikan Adam dengan cari ini, Ia memuliakan dan mengagungkan Adam. Ia cinta pada Adam. Pada diri Adamlah Allah Subhanahu Wa Ta’ala muncul dalam bentuk-Nya. Teori ini lebih jelas dapat dilihat dalam syair al-Hallaj berikut :
????? ?? ???? ?????? ?? ??? ?????? ??????
?? ?? ?????? ????? ?? ???? ????? ???????

“ Maha suci zat yang sifat kemanusian-Nya
membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang.
Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya
Dengan nyata dalam bentuk manusia yang makan dan minum”

Manusia juga memiliki sifat ketuhanan menurut penafsiran al-Hallaj terhadap ayat berikut mengenai penciptaan Adam :
??? ???? ???????? ?????? ???? ?????? ??? ????? ??? ??????? ……………(?????)
“Ketika kami berkata kepada para Malaikat “Sujudlah kepada Adam”, maka mereka pun sujud kecuali iblis yang enggan dan merasa besar (sombong) dan ia termasuk orang yang kafir (ingkar)” (QS. Al-Baqarah : 34)

Menurut al-Hallaj, Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud kepada Adam karena pada diri Adam itu Allah menjelma sebagaimana ia menjelma dalam diri Nabi Isa. Penafsiran al Hallaj ini diperkuat oleh Hadits yang dikalangan ahli sufi sangat
berpengaruh ??? ???? ??? ??? ??? ?????
“Tuhan menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya”.
Kesimpulan dari pendapat al-Hallaj sebagaimana ditegaskan Harun Nasution dalam bukunya : “Dalam diri manusia itu terdapat sifat ketuhanan dan didlam diri Tuhan terdapat sifat kemanusiaan. Dengan demikian persatuan antara Allah dan manusia bisa terjadi, dan persatuan ini dalam filsafat al-Hallaj mengambil bentuk al-Huluul (mengambil tempat). Untuk dapat bersatu manusia harus terlebih dahulu menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya dengan fana’. Kalau sifst-sifat kemanusian itu telah hilang dan yang tinggal hanya sifat-sifat ketuhanan dalam dirinya, disitu baru Tuhan dapat mengambil tempat dalam dirinya. dan ketika itu roh Tuhan dan roh manusia bersatu dalam tubuh manusia, sebagaimana diungkapkannya dalam syair berikut :

“ Jiwamu disatukan dengan jiwaku
sebagaimana anggur disatukan dengan air suci
Dan jika ada sesuatu yang menyentuh engkau, ia menyentuh aku pula
Dan ketika itu dalam tiap hal engkau adalah aku”
Pada syair yang lain al-Hallaj juga mengatakan :

“ Aku adalah dia yang aku cintai
dan dia yang kucintai adalah aku.
Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh
Jika engkau lihat aku, engkau lihat dia.
Dan jika engkau lihat dia, engkau melihat kami .
Dengancara inilah menurut al-Hallaj seorang sufi dapat bersatu dengan Tuhan. Hanya saja dalam konsep al-Huluul diri al-Hallaj tidak lebur berbeda dengan konsep ittihad –nya al-Bustami dimana ia lebur yang ada hnaya Tuhan. Sebenarnya al-Hallaj tidak mengakui dirinya Tuhan sebagaimana ia ungkapkan dalam syairnya :

“Aku adalah Yang Maha Benar….
Dan bukanlah Yang Maha Benar itu aku.
Aku hanya satu dari Yang Maha Benar,
Maka bedakanlah antara kami “.
Tujuan dari al-Huluul adalah mencapai persatuan secara bathin. Untuk itu Hamka mengatakan bahwa al-Huluul adalah ketuhanan (lahut), menjelma kedalam diri insane (nasut) dan hal ini terjadi pada saat kebatinan seorang insan telah suci bersih dalam perjalanan hidup kebatinan .
Untuk memahami doktrin al-Huluul ini seharusnya merujuk kepada penjelasan al-Hallaj sendiri seperti berikut ini :

“Siapa yang membiasakan dirinya dalam ketaatan, sabar atas kenikmatan dan keinginan, maka ia akan naik ketingkat muqarrabin. Kemudian ia senatiasa suci dan meningkat terus hingga terbebas dari sifat-sifat kemanusiaan ini. Apabila sifat-sifat kemanusiaan dalam dirinya lenyap, maka roh Tuhan akan mengambil tempatdalam tubuhnya sebagaimana ia mengambil tempat pada diri Isa bin Maryam. Dan ketika itu seorang sufi tidak lagi punya kehendak kecuali apa yang dikehendak oleh ruh Tuhan sehingga seluruh perbuatannya merupakan perbuatan Tuhan”
Penjelasan ini setidaknya menginformasikan tiga hal berkaitan dengan bangunan konsep al-Huluul. Pertama, terkait dengan pra kondisi al-Huluul tersebut. Seperti al-ittihad, fana’ an- Nafs juga merupakan pra kondisi atau pintu gerbang menuju al-Huluul. Kalau fana’an-nafs telah membuat Abu Yazid al-Bustami sampai kepada terjadinya al-ittihad, maka bagi al-Hallaj itu mendorongnya samapi kepada al-Huluul. Kedua, menyangkut makna hakikat al-Huluul. Ketika al-fana mencapai puncak yang ditandai dengan leburnya nasut sufi secara total sehingga dirinya dikuasai oleh lahut nya, maka disaat itulah nasut Tuhan turun dan mengambil tempat pada diri sufi untuk bersatu dengan lahut-Nya. Inilah makna substansi al-Huluul.
At-Taftazani berpendapat bahwa doktrin al-Huluul itu merupakan kesadaran psikologis. Oleh karenanya kesatuan dalam faham ini hanya bersifat figuratif bukan merupakan kesatuan yang riil. Dengan kata lain, persatuan figuratif dalam al-Huluul masih mengakui adanya perbedaan dan pemisahaan antara ruh Tuhan dan ruh sufi sebagaimana tampak begitu jelas dalam ungkapan al-Hallaj sendiri “Ruh-Mu disatukan dengan ruh-ku / mu’zijat ruhuka fi ruhiy” dan “ Kami adalah dua ruh yang bertempat pada satu tubuh / Nahnu ruhaani halalnaa badanan”.
Ketiga, Menyangkut dampak psikologis yang mengiringi al-Huluul.
Ketika tercapai puncak al-Huluul, seluruh kehendak sufi terserap dan diliputi oleh kehendak Tuhan. Sehingga seluruh aktifitas yang muncul bukan lagi aktifitas sufi melainkan aktifitas Tuhan, hanya saja melalui organ tubuh sufi. Dengan demikian pernyataan ”Ana Al-Haqq” tidak dapat dipandang sebagai ucapan al-Hallaj untuk mengepresikan dirinya sebagai al-Haqq (Tuhan) melainkan perkataan Tuhan untuk mengepresikan dirinya sebagai Tuhan , Hanya saja melalui lisan al-Hallaj.
G. Kontroversial Sebab terbunuhnya Al-Hallaj
Al-Hallaj adalah sosok tokoh sufi yang kontroversial akibat dari konsep al-Huluul
yang beliau tawarkan. Seperti konsep-konsep yang lain tentu ada yang mendukung dan ada pula menentang. Bagi sosok al-Hallaj ini kelihatannya pihak yang berseberangan dengan faham lebih banyak dibanding mendukunya. Bahkan kelompok Syiah Imamiyah dan mazhab az-Zahiriyah menuduhnya telah kafir . sehingga pada akhirnya hayat beliau berakhir ditiang gantungan.
Mengenai sebab dibunuhnya al-Hallaj ini hingga sekarang masih simpang siur (Kontroversial). Jika kebanyakan orang mengatakan bahwa sebab dibunuhnya al-Hallaj karena perbedaan faham dengan ulama fiqih yang pro penguasa, maka ini perlu dipertanyakan kembali. Sebab para para sufi-sufi lain seperti Ibnu Arabiy dan Zhun Nun al Mashriy yang juga bertentangan dengan ulama fiqih ketika itu tidak dibunuh .
Menurut Harun Nasution, al-Hallaj dibunuh karena memiliki hubungan dengan gerakan Qaramithah (Carmatians) satu sekte syiah yang dibentuk oleh Hamdan Ibnu Qarmat di akhir abad ke IX M. Sekte ini mempunyai faham komunis (harta benda dan perempuan miliki bersama) mengadakan teror, menyerang Makkah ditahun 930 M dan merampas Hajar al-Aswad yang kemudian dikembalikan oleh Bani Fatimiyah ditahun 951 M. Mereka juga menentang pemerintahaan Bani Abbas mulai dari abad X sampai abad ke IX M . Pendapat ini menurut Abuddi Nata dalam bukunya Akhlak Tasaswuf perlu dipertimbangkan. Sebab jika benar, maka al-Hallaj secara politis dan ideologis memang bersalah dan patut dihukum. Tapi jika itu hanya tuduhan belaka, maka masalahnya jadi lain. Pengadilan akhiratlah yang akan menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar .
Al-Hallaj menemui ajalnya dengan penuh keberanian serta memberikan maaf kepada orang-orang yang terlibat dalam pembunuhannya. Ketika ia disalib ia sempat menyampaikan ucapan :

“Mereka adalah hamba-hamba-Mu yang telah berkumpul untuk membunuhku disebabkan kefanatikan terhadap agama-Mu dan sebagai ibadah (pengabdian) kepada-Mu. Maka berikan keampunan pada mereka. Jika engkau bukakan pada mereka apa yang telah engkau bukakan pada, niscaya mereka tidak akan melakukan apa yang telah mereka lakukan” .
Setelah Al-Hallaj wafat, perbedaan pendapat pun terjadi dalam menyikapi akidah dan keimanannya. Ada yang besikap berlebihan dan memuji al-Hallaj sehingga menganggap al-Hallaj telah diangkat kelangit seperti al-Masih. Dan ada yang mengatakan ia akan kembali lagi setelah 40 tahun. Bahkan ada yang beranggapan meluapnya air sungai Dajlah setiap tahun disebabkan dibuangnya abu mayat al-Hallaj yang dibakar ke sungai tersebut . Sebagian yang lain menganggap ia telah murtad dan kafir. Ada pulah ynag bersikap tawaqquf (tidak berkomentar apa-apa) seperti Abu Abbas bin Syuraih . Menurut as-Sullamiy, mayoritas al-Masyaikh (guru-guru besar
tasawuf) menolak al-Hallaj .

H. Penutup

Al-Bustami adalah seorang tokoh sufi yang hidup pada abad ketiga hijrah. Beliau dipandang sebagai orang yang mempelopori paham Fana’ dan Baqa’ dan Ittihad. Sebelum bekliau bergelut dengan dunia tasawuf, beliau mempelajari fiqh terutama mazhab Hanafi.
Pahan Fana’ yang dikembangkan oleh beliau adalah menyatakan bahwa apabila manusia telah sampai tingkat Fana’ artinya hilangnya kesadaran akan wujud diri dan lingkungannya, maka ia akan Baqa’ yang artinya berkesinambungan didalam sifat-sifat ketuhanan. Yaitu kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia dan puncaknya adalah manusia dapat menyatu atau ittihad dengan Tuhan sehingga diri pribadi menjadi tiada dan yang ada hanya Tuhan semata-mata.
Paham ini mendapat tanggapan yang beragam dari kalangan ulama. Ulama syari’ah atau ahli fiqh cenderung menyatakan bahwa paham ini menyesatkan dan al-Bustami dikatakan kafir, sebagian lagi menganggapnya hanya penyimpangan saja dan sebagian lagi memahami bahwa paham yang didasarkan pada ungkapan-ungkapan al-Bustami tidak dapat dijadikan pedoman sebab disampaikan ketika ia tidak dalam kesadaran dirinya, melainkan tunduk pada intuisi ketikas ia fana’, baqa’, dan Ittihad.

Mengkaji konsep al-Huluul tidak bisa dilepaskan dari penafsiran-penafsiran al-Hallaj sendiri atas doktrin tersebut. Melihatnya tentu dari kaca mata sufi bukan dari kaca mata fiqih atau teologi. Tapi menurut kami (penulis), sikap-sikap yang berseberangan dengan al-Hallaj pun tidak salah sebab menurut mereka dengan kaca mata yang dipakai doktrin al-Huluul itu telah keliru bahkan sesat dan kafir. Apalagi secara Zhahir faham dan fatwa yang dilontarkannya bertentang dengan ajaran agama Islam yang Ma’lum min Ad-Din bi adl- Dlarurah. Seperti pendapatnya tentang tidak wajibnya haji. Mungkin ada sebagian orang setuju dengan konsep al-Huluul karena itu hanyalah bentuk ekspresi al-Hallaj tentang kedekatan dengan Tuhan dan itu hanya didapatkan melalui pengalaman, intuisi dan tajribah sufiyah yang tidak bisa dirasakan semua orang. Akan tetapi ketika al-Hallaj “menyeberang” kewilayah fiqih dan berfatwa bahwa haji tidak wajib dan sebagainya, maka pada aspekini ulama fiqih cendrung memamdangnya murtad dan pantas dihuku mati. Wallahu a’lam bi ash-Shawab.

DAFTAR PUSTAKA

1. Abd al-Qodir Mahmud, Al-Falsafah al-Saufiyah fi al-Islam, dar al-Fikr al-Arabi, Kairo, 1966
2. Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta (2002)
3. Abu al-wafa’ al-Ghanimiy al-Taftazaniy, Madhakal Ilaa at-Tashawuf al-Islamy, Dar ats-Tsaqafah,Kairo (1409 / 1989)
4. Ahmad Muhammad Subhi, al-Falsafah al- Ahkhlaqiyah fi al-Fikr al-Islam, Dar al-Maarif, Mesir, 1969
5. Abu Abdir Rahman as-Sullamy, Thabaqat as-Sufiyah, Maktabah al-Khanjiy, Kairo (1969)
6. Al-Baqhdadiy, Al-Farq Bain al-Firaq, Dar al-Ma’rifah,Beirut (tt)
7. Al-Hujwairiy, Kasyf al-Mahjuub; edisi Indonesia oleh Suwardjo Mutahhari dan Abdul Hadi, Kasyf al Mahjuub; Risalah Persia Tertua Tentang Tasawuf, Mizan, Bandung (1993)
8. Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996
9. Al-Kalabazi, al-Ta’aruf Mazhab al- Tasawuf, Maktab al-Kulliyah al-Anhadiyah, Kairo, 1969
. Asmaran AS, Pengantar Studi Tasawuf, Rajawali Press, Jakarta, 1994

10. Annemarie Schimme, Mystical Dimmension of Islam, The University of The North Carolina Press, USA (1999)
11. Departemen Agama, Ensiklopedi Islam, Jakarta, 1993
12. Departemen Agama, Qur’an dan Terjemahnya, 1985
13. E.J. Brill’s, First Encyclopedia of Islam (1913-1936), Vol III, E.J. Brill, Leiden New York-Koln (1993)
14. Harun Nasution, Falsafah dan Mistisme Dalam Islam, Pen.Bulan Bintang, Jalarta (1992)
15. Hamka, Tasawuf ; Perkembangan dan Permurniannya, Pen Panjimas, Jakarta (1984)
16. Al Qusyairiy, filsafat dan mistisme dalam Islam, penerbit Bulan Bintang Jakarta 1983
17. Herbert Mason, Al-Hallaj, Curzon Press, New Delhi (1945)
18. Ibnu Khalkan, Wafayaat al-A’yaan, Bulaaq, Mesir (1299 II)
19. Lathiful Khuluq, The Nation oy Love God in al-Hallaj, dalam The Dynamics of Islamic Civilazation, Titian Ilahi Press, Yogyakarta (tt)
20. Louis Massignon, The Encyclopedia of Islam, Luzac and Co, London (tt)
21. Muhammad as-Sayid al-Galyand, Qadlaayaa at-Tasawuf fi al-Dlou’ al Kitab wa as-Sunnah, Maktabah asy-Syabaab, Al-Munirah, Mesir (1989)
22. Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Bina Ilmu, Surabaya,1985
23. Reynold A. Nicholson, Encyclopedia of Religion andv Ethics, Charles Scribners Son, New York (tt)
24. Thaha Abdul Baqi Surur, Al-Hallaj ; Syahid at-Tasawuf al-Islamiy, al Mathba’ah al-Ilmiyah wa Mathba’atuhaa. Kairo (1961)
25. Proyek Pembinaan PTA IAIN SU, Pengantar ilmu Tasawuf, Medan 1981/1982
26. Muhammad Ghalib, at Tasawuf al muqaran, Maktabah Nahdah Mesir 1997.

METODE PEMIKIRAN UMMAT ISLAM DALAM BIDANG FILSAFAT, KALAM, TASAWUF DAN FIQH
oleh Alimudasir (pemikir Islam Masa depan)
A. Metode Pemikiran Filsafat.
Berfikir secara filosofis dapat digunakan dalam memahami ajaran agama dengan maksud agar hikmah, hakekat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan difahami secara seksama. Disamping itu, pemahaman agama melalui pendekatan filosofis dapat menghindarkan penganut agama itu dari pengamalan agama yang bersifat formalistik; Yakni mengamalkan agama secara susah payah

tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Namun demikian, pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau menyepelekan bentuk pengamalan agama yang bersifat formal tersebut.
Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya menggunakan akal pikiran dapat dipastikan sangat memerlukan pendekatan filosofis dalam memahami ajaran agamanya. Hanya saja menurut Prof.DR.Juhaya S.Praja ciri-ciri berikut ini melekat pada filsafat Islam; Yakni :
a. Filsafat Islam tidak meragukan kebenaran al-Qur’an dan ajaran Islam.
b. Filsafat Islam bertujuan untuk mencapai hikmah sebagai pengetahuan tunggal yang menjadi mahkota bagi segala ilmu.
c. Hikmah yang dicari oleh filsafat Islam itu adalah kualitas keagamaan yang mengandung unsur yang terambil dari al-Qur’an.
d. Filsafat Islam gemar akan masalah pengetahuan, dasar-dasar psikologi dan ontologisnya.
e. Filsasat Islam sebagai kelanjutan dari gejala pemikiran Yunani.

1. Tokoh Filsafat Islam dan Pemikirannya
a. Al-Kindi (796 – 873 M)
Ia berpendapat, bahwa antara filsafat dengan agama tidak bertentangan. Ilmu tauhid atau teologi adalah cabang termulia dari filsafat. Falsafat membahas kebenaran atau hakekat. Dan hakekat pertama adalah Tuhan. Menurutnya, Tuhan tidaklah mempunyai hakekat dalam arti a^niyah maupun ma^hiyah. Al-Kindi juga berbicara masalah jiwa dan akal. Menurutnya, Jiwa atau roh tidak tersusun (basi^tah) akan tetapi mempunyai arti penting. Substansi (jauhar) roh berasal dari Tuhan. Dan Jiwa mempunyai tiga daya; Daya bernafsu yang berpusat di perut, daya berani yang berpusat di dada dan daya berpikir yang berpusat di kepala. Daya berfikir inilah yang disebut akal. Pemikiran filsafat al-Kindi dipengaruhi oleh Aristoteles, Plato dan Neo-Platonisme.
b. Al-Farabi (872 – 950 M)
Falsafatnya yang terkenal adalah falsafat Emanasi, dimana ia menyatakan, bahwa segala yang ada memancar dari Zat Tuhan melalui akal yang berjumlah sepuluh dan alam materi dikontrol oleh akal yang sepuluh ini. Dalam pembahasannya mengenai jiwa dan akal, Ia menyatakan, bahwa akal mempunyai tiga tingkat : al-hayulani (materil), bi al-fi’l (aktuil) dan al-mustafad (adeptus). Akal pada tingkat terakhir inilah yang dapat menerima pancaran Ilahi.
c. Ibnu Sina (980 – 1037 M)
Di Barat ia dikenal dengan nama Avicenna dan lebih dikenal sebagai dokter dari filosof, sehingga ia mendapat gelar The Prince of Phsycians. Dalam filsafat ia mempunyai faham emanasi dan akal-akal baginya adalah melekat. Wujud ia bagi kedalam wajib, mungkin dan mustahil.
d. Ibnu Maskawih (lahir 1030 M)
Dalam bidang filsafat ia lebih dikenal dalam filsafat akhlaknya. Menurutnya akhlak adalah sikap mental atau jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan tanpa pemikiran. Sikap mental ini dibawa sejak lahir. Pembicaraanya mengenai akhlak membawanya kepada pembahasan mengenai jiwa; Karena akhlak berhubungan erat dengan jiwa.
Menurutnya, jiwa tidak berbentuk jasmani, dan mempunyai bentuk tersendiri, terlepas dari badan. Kesempurnaan yang dicari oleh jiwa adalah kebajikan dalam bentuk ilmu pengetahuan, keberanian dan keadilan.
e. Al-Ghazali (1059 – 1111 M)
Asal mulanya beliau mengagumi filsafat yang mungkin dipengaruhi oleh gurunya di Madrasah Nizamiah, Nisyafur. Hal ini bisa dilihat pada karyanya yang berjudul Maqasid al-Falasifah dan karya lainnya yang mengkritik pemikiran filosof adalah Tahafut al-Falasifah. Namun kemudian ia lebih dikenal sebagai seorang ahli tasawuf yang diantaranya disebabkan oleh keraguannya tentang pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera yang diyakininya terkadang berdusta. Pengetahuan yang diperoleh dari akalpun sebenarnya tetap menggunakan pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera sebagai bahan.
Oleh karena itu ia mengambil jalan sufi, yang membawanya kepada pengetahuan yang kebenarannya dapat diyakini. Makrifat adalah suatu tingkat dimana seorang sufi dapat melihat Tuhan dan hal-hal yang tak dapat dilihat oleh manusia biasa.
f. Ibn Rusyd (1126 – 1198 M)
Kesimpulan filosofisnya hampir sama dengan pendahulunya, bahwa falsafat tidak bertentangan dengan Islam. Karena tugas filsafat adalah berfikir tentang wujud untuk mengetahui pencipta semua yang ada ini. Dan al-Qur’an banyak kata yang memotivisir manusia untuk menggunakan akal pikirannya. Sehingga apabila teks wahyu bertentangan dengan akal dan falsafat, maka teks tersebut harus diberi intrepretasi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan pendapat akal.
Dalam bukunya Tahafut al-Tahafut, Ibn Rusyd membela kaum filosof atas serangan al-Ghazali yang menyatakan, bahwa pemikiran filsafat yang menyatakan alam bersifat kekal, Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam ini dan pembangkitan jasmani tidak ada adalah kafir, merupakan tuduhan yang tidak mempunyai dasar syari’at yang kuat dan terjadi salah faham serta terjadi ketidak konsistenan al-Ghazali dalam menjelaskan pembangkitan manusia.

B. Metode Pemikiran Kalam
Persoalan pertama yang menjadi sorotan ummat Islam yang kemudian berimplikasi teologis adalah berasal dari persoalan politik; Yakni peristiwa tahkim/ arbitrase antara Ali Ibn Abi Thalib dengan Mu’awiyah pada (setelah) perang Shiffin. Pemahaman terhadap persoalan ini, kemudian terfokus pada persoalan siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir. Dalam arti, siapa yang sudah keluar dari Islam dan siapa yang masih tetap Islam. Konsep kafir, pada perkembangan berikutnya mengalami perubahan; Tidak hanya ditetapkan bagi orang yang tidak menetapkan hukum berdasarkan al-Qur’an, tetapi diterapkan pula terhadap orang-orang yang melakukan dosa besar. Persoalannya adalah, apakah orang yang melakukan dosa besar itu masih mukmin atau sudah menjadi kafir ?
Persoalan inilah yang kemudian berpengaruh cukup besar terhadap perkembangan teologi dalam Islam, yang pada awalnya menimbulkan tiga aliran teologi, yaitu : Khawarij, Murji’ah dan Mu’tazilah.

1. Aliran Kalam dan Pemikirannya.
a. Khawarij.
Aliran Khawarij mengatakan, bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir; telah keluar dari Islam (murtad), karena itu wajib dibunuh. Pendapatnya ini berlandaskan pada al-Qur’an surat al-Nisa ayat 31 dan 48 dan hadits Rasulullah saw., yang menurut pemahaman mereka, bahwa dosa besar, seperti zina, sihir, membunuh manusia tanpa sebab, memakan harta anak yatim, riba, meninggalkan medan pertempuran dan memfitnah perempuan baik-baik selevel atau sederajat dengan syirk; suatu dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah, karena itu pembuatnya adalah kafir.
b. Murjiah
Aliran Murji’ah berpandangan, bahwa orang yang berbuat dosa besar masih tetap mukmin, bukan kafir. Mengenai dosa besar yang dilakukannya, diserahkan kepada Allah, apakah akan mengampuninya atau tidak. Hal ini didasarkan pada argumentasi, bahwa keimanan seseorang terletak pada syahadat, yang diyakini dalam hatinya, bukan pada amal perbuatan. Allah lah yang mengetahui hati manusia, karena itu perbuatan tidak bisa dipakai sebagai ukuran untuk menentukan Islam dan kafir.
Disamping itu, orang yang melakukan dosa besar, dalam kehidupannya, tentu juga pernah melakukan perbuatan baik, sehingga dengan Maha Pemurah dan Maha Pengampun-NYA, mungkin Allah akan mengampuninya.

c. Mu’tazilah.
Mu’tazilah mempunyai pendapat yang berbeda dengan dua aliran diatas. Yang mengemukakan, bahwa orang yang berdosa besar, bukan kafir dan bukan pula mukmin (al-manzilah bain al-manzilatain). Dalam arti, apabila orang yang berdosa besar tersebut bertaubat sebelum matinya, maka ia akan masuk syurga. Tetapi apabila tidak sempat bertaubat, maka ia dihukumi sebagai kafir sehingga masuk ke dalam neraka untuk selama-lamanya.

d. Ahlus Sunnah ( Asy’ariyah dan Maturidiyah)
Setelah ummat Islam bersentuhan erat dengan keyakinan dan pemikiran dari agama lain dan filsafat Yunani, masuklah ke dalam Islam faham Qadariah (free will dan free act) dan faham Jabariah atau fatalisme. Kaum Mu’tazilah banyak dipengaruhi oleh filsafat Yunani, sehingga perkembangan selanjutnya , pemikiran teologi mereka banyak dipengaruhi oleh akal atau ratio.
Hal ini tentu saja mendapat tantangan dari Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansyur al-Maturidi, yang pada intinya persoalan yang mereka perdebatkan adalah sekitar : Fungsi akal dan wahyu, kehendak dan perbuatan manusia, kehendak dan kekuasaan Tuhan, Keadilan Tuhan, perbuatan-perbuatan Tuhan, sifat-sifat Tuhan dan konsep Iman.

C. Metode Pemikiran Tasawuf.
Manusia mempunyai panca indera, akal pikiran dan hati sanubari. Ketiganya harus bersih, sehat berdaya guna dan bekerjasama secara harmonis. Ada tiga bidang ilmu yang berhubungan dengannya; Fiqih berperan membersihkan dan menyehatkan panca indera/anggota tubuh, yang dikenal dengan istilah thaharah. Filsafat berperan dalam menggerakkan, menyehatkan dan meluruskan akal pikiran. Dan Tashawwuf berperan dalam membersihkan hati sanubari. Karena itu, tashawwuf banyak berurusan dengan dimensi esoterik (bathin) dari manusia
Tashawwuf mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar, bahwa seseorang berada di hadlirat Allah. Intisari dari tashawwuf adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Tashawwuf merupakan ilmu-pengetahuan yang mempelajari cara dan jalan seorang muslim supaya dapat berada sedekat mungkin dengan Allah swt. Tashawwuf bersumber pada al-Qur’an dan al-Sunnah.
Dalam memahami al-Qur’an dan Hadits, kaum sufi meyakini, bahwa di belakang dalil-dalil yang berupa kata-kata dan kalimat terdapat beberapa makna yang sangat dalam dan sangat halus sebagai makna yang dimaksud oleh Alloh swt. Namun mereka tidak menetapkan makna bathin sebelum menetapkan makna lahir.

1. Tokoh Sufi dan Pemikirannya.
a. Hasan al-Bashri.( 22 – 119 H )
Beliau dikenal dengan madrasah Khauf dan raja. Khauf (takut) akan murka Allah dan Raja (pengharapan) akan karunia-NYA. Khauf mengenang dosa yang telah lampau, khauf memikirkan ajal yang masih tinggal dan khauf akan bahaya yang mengancamnya. Dasar pemikirannya adalah zuhud akan dunia, menolak kemegahannya, semata menuju Allah swt. Tawakkal, khauf dan raja tidaklah terpisah. Dalam memahami ‘“Dunia” ia menempatkan sebagai tempat beramal, hanya saja ketika bertemu dengannya dengan perasaan benci dan zuhud. Kitab yang banyak menukil kehidupan dan ajarannya, diantaranya Hullitaul Aulia, Thabaqat al-Kubra, Kuwakib al-Durriyah dan Kutul al-Qulub.
b. Rabi’ah al-Adawiyah ( 713 – 801 H)
Beliau dikenal dengan madrasah Mahabbah. Fahamnnya ini berdasar surat al-Maidah : 54 dan Ali-Imran : 30. Pengertian Mahabbahnya adalah : Memeluk kepatuhan para Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-NYA. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi. Dan mengosongkan hati dari segala-segalanya kecuali dari diri yang dikasihi. Salah satu pemikirannya dan menjadi perilaku hidupnya tercermin dalam kata-kata : “Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka … bukan pula karena ingin masuk syurga … tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada-NYA.

c. Zunnun al-Misri ( w. 860 M)
Beliau dianggap sebagai bapak faham ma’rifah. Perbedaannya dengan Mahabbah, adalah bahwa ma’rifah menggambarkan hubungan rapat dalam bentuk gnosis, pengetahuan dengan hati sanubari, sedangkan mahabbah menggambarkan hubungan rapat dalam bentuk cinta. Ma’rifah berarti mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan. Ma’rifah adalah pengetahuan hakiki. Ma’rifah bukan hasil pemikiran manusia, tetapi bergantung kepada kehendak dan rahmat Allah. Dan alat untuk memperoleh ma’rifah adalah siir. Faham ini kemudian makin berkembang setelah berada di tangan al-Ghazali, yang menyatakan, bahwa pengetahuan yang diperoleh dari ma’rifah lebih tinggi mutunya dari pengetahuan yang diperoleh oleh akal.

d. Abu Yazid al-Bustomi (w. 874 M)
Beliau dipandang sebagai sufi pertama yang mempunyai faham fana dan baqa. Hal ini terlihat dari kata-katanya : “ Aku tahu Tuhan melalui diriku, hingga aku hancur, kemudian aku tahu padaNYA melalui diriNya, maka akupun hidup. Faham fana dan baqa ini sebagai salah satu prasyarat seseorang dapat bersatu dengan Tuhan, karena selama belum dapat menghancurkan dirinya, ia tak akan dapat bersatu dengan Tuhan. Fana yang dicari sufi adalah penghancuran diri, yakni hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia, sehingga yang tinggal wujud rohaninya dan ketika itu dapatlah ia bersatu dengan Tuhan.

D. Metode Pemikiran Fiqh.
1. Latar belakang.
Metode pemikiran fiqih diawali oleh kelahiran aliran kalam dan ahnaf yang dilatarbelakangi oleh domisili para ulama, yaitu Madinah dan Kufah. Madinah sebagai kota Nabi saw. Menjadikan para ulamanya sangat dimudahkan dalam menemukan riwayat. Sedangkan Kufah, jaraknya cukup jauh dari kota Nabi saw. Ini, sehingga para ulama yang berada di sana relatif lebih sulit mendapatkan riwayat atau lebih sedikit riwayat yang sampai kepadanya. Perkembangan masyarakat Islam Kufah, relatif lebih dinamis daripada masyarakat Islam Madinah. Hal ini disebabkan karena masyarakat Islam Kufah sudah bersentuhan dengan kebudayaan non Arab, yaitu Persia yang sudah mengenal filsafat Yunani. Karena itu, persoalan keagamaan-kemasyarakatan jauh lebih banyak dan kompleks.
Pokok perbedaan antara aliran kalam dan ahnaf adalah pada penetapan ra’yu sebagai sumber hukum dan keterlibatannya dalam istimbath al-hukm dan tathbiq al-hukm serta penggunaan istilah dan cara-cara yang ditempuh dalam pembahasan ushul fiqih..

a. Aliran Kalam dalam kajian hukum lebih berorientasi kepada ayat-ayat al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw., sebagai implikasi dari dasar pemikiran mereka, bahwa syar’i hanyalah Allah dan Rasul-NYA. Mujtahid bertugas hanya menemukan hukum yang telah dikemukan oleh syar’I, bukan menciptakan hukum. Sedangkan aliran ahnaf dalam kajian hukum sangat memperhatikan karakter-karakter furu’ dan memperhatikan kepentingan kehidupan mukallaf, dengan melihat pesan-pesan al-Qur’an dan sunnah Nabi saw. Dan aliran al-Jam’u merupakan sintesa pemikiran hukum yang berusaha menggabungkan antara aliran kalam dan ahnaf dalam bentuk pola pemikiran hukum yang bersifat deduktif dan induktif dengan memperhatikan relevansi kaidah ushuliah yang diperoleh dan didefinisikan oleh ulama mutaakhirin.
b. Aliran kalam dalam membahas kaidah-kaidah ushul berpegang pada analisis bahasa dan analisis illat-illat hukum. Kaidah ushul yang dikemukannya ditopang dengan argumentasi nash dan logika. Pembahasan hukum tidak terlalu terikat oleh masalah furu’ yang telah ada dari satu madzhab, tetapi lebih berorientasi pada mengemukakan suatu teori keilmuan dalam masalah hukum. Sedangkan aliran ahnaf pembahasan ushulnya bertolak dari hukum-hukum furu’ yang diterima dari imam-imam madzhab mereka, sehingga apabila terjadi pertentangan antara kaidah ushul dan hukum furu, maka kaidah tersebut dirubah. Dan aliran al-Jam’u berusaha untuk memadukan corak kalam dan ahnaf tersebut dengan mengajukan kajian ushul fiqih yang menggunakan pendekatan kebahasaan dan maqashid al-syar’iah.

PEMAHAMAN SUMBER AJARAN : AL-QUR’AN DAN HADITS.

1. Pemahaman Ahli Tasawuf.
a. Dalam memahami al-Qur’an dan Hadits kaum sufi mengambil makna bathin yang diyakininya sebagai makna yang dimaksud oleh Allah swt. Karena dibalik dalil-dalil yang berupa kata-kata dan kalimat terdapat beberapa makna yang sangat dalam dan sangat halus. Hakekat al-Qur’an tidak hanya terbatas pada pengertian yang bersifat lahiriah saja tetapi tersirat makna bathin yang merupakan makna yang terpenting. Namun mereka menyatakan, bahwa makna bathin tidak akan tercapai sebelum menetapkan makna lahir.
b. Pengetahuan tentang rahasia di dalam al-Qur’an dapat diketahui oleh kaum sufi melalui ilmu isyarat dan melalui pengamalan ajaran al-Qur’an dan Hadits, baik amal lahir maupun amal bathin, sehingga Allah akan melimpahkan ilmu Ladunni, yakni ilmu yang belum pernah mereka ketahui.

2. Pemahaman Failosof.
a. Al-Qur’an dan Hadits dipahami dengan menggunakan pendekatan filosofis baik yang berusaha untuk mengadakan sintesis atau sinkretisasi antara teori filsafat dengan ayat al-Qur’an maupun berupaya untuk menolak teori filsafat yang dianggap bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an.
b. Ta’wil merupakan salah satu cara yang banyak ditempuh oleh failosof dalam memahami nash-nash al-Qur’an dan hakekat syara’.
c. Pemahaman akal melalui filsafat terhadap al-Qur’an adalah tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Karena failosof menyakini akal bersesuaian dengan wahyu. Dan pemahaman ini dilakukan agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama.
d. Tokoh dan karyanya, seperti : Al-Farabi, karyanya Fusus al-Hukm, Fahr al-Razi, karyanya Mafatih al-Ghaib.

3. Pemahaman Fuqaha.
a. Para Fuqaha mengutamakan pemahaman / penafsiran al-Qur’an dan Hadits terhadap ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum dan menetapkan hukum-hukum fiqih daripadanya.. Al-Qurthubi dengan bukunya Jami’ ahkam al-Qur’an , Ibnu ‘Araby dan Al-Jashshash dengan bukunya Ahkam al-Qur’an dapat mewakili bagaimana pemahaman mereka terhadap al-Qur’an.
b. Dalam memahami al-Qur’an mereka terikat pada asbab al-nuzul, kaidah bahasa Arab, dan menggunakan pendekatan bil al-ma’tsur sepanjang memungkinkan.
c. Metode muqorin kadangkala mereka gunakan dalam pemahamannya terhadap al-Qur’an dengan mengemukakan pendapat-pendapat madzhabnya.

AKIBAT-AKIBAT DAN PREDIKSI PEMIKIRAN ISLAM
1. Dalam Bidang Filsafat mengakibatkan tumbuhnya sikap kritis di kalangan ummat Islam dan pemahaman yang seksama terhadap ajaran Islam. Sehingga ajaran Islam tidak dilihat sebagai sesuatu yang formalistik tetapi menjadi lebih bermakna dan mampu menangkap hikmah serta inti dari ajaran Islam itu sendiri. Hanya saja sikap pro dan kontra terhadap filsafat sebagaimana terjadi pada masa lampau hendaknya disikapi secara arif dan bijaksana, sehingga filsafat ditempatkan pada proporsi yang benar sebagai pisau analisa ajaran Islam. Dan kiranya kajian filsafat tidak terjebak pada kajian sejarah filsafat dan perlu diperkenalkan sejak SLTA. Model kajian filsafat seperti M.Amin Abdullah, Otto Horrasowitz, Majid Fakhry, Harun Nasution, Ahmad Fu’ad al-Ahwani, dan Juhaya S.Praja perlu terus dikembangkan, sehingga filsafat Islam mempunyai bentuknya yang utuh.
2. Dalam bidang kalam, yang telah melahirkan banyak aliran telah menjerumuskan kita pada kajian masa lalu yang banyak dipengaruhi oleh politik dan fanatisme. Masa kini dan masa mendatang dengan telah dipahaminya metode berpikir setiap aliran, kiranya kajian kalam akan lebih murni dan bebas fanatik. Kajian kalam yang telah dilaksanakan oleh ulama dulu dapat dijadikan model untuk kajian mendatang, baik pada obyek materialnya maupun pada objek formalnya. Kajian sejarah aliran dan perbandingannya juga dapat dijadikan salah satu tangga untuk mencapai kesempurnaan dengan dapat disimpulkannya kelebihan dan kekurangan masing-masing aliran. Sehingga harapan Islam yang satu, ummat yang satu dan tercapai.
3. Dalam bidang tasawuf yang telah melahirkan tarekat sebagai organisasi sufi hendaknya tidak membawa ummat kepada saling mengklaim, bahwa tarekatnya yang paling benar dan mampu membawa kepada Tuhan, tetapi dapat dijadikan sebagai khazanah ummat Islam dalam upayanya untuk selalu ingin sedekat mungkin dengan Tuhan, walaupun kajian kritis, mana yang mu’tabar dan tidak perlu terus dikembangkan agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang bersifat penalaran atau pengamalan tanpa dasar syari’at.
4. Dalam bidang hukum yang telah memunculkan berbagai pranata sosial, budaya dan politik, seperti lembaga peradilan, perkawinan, wakaf, negara dan mu’amalah perlu terus dikembangkan karena melihat sifat dari hukum atau fiqih itu yang terikat oleh situasi dan kondisi sosial-kemasyarakatan, geografis dan demografis serta perkembangan ilmu dan teknologi yang secara tidak langsung telah memberikan dampak positif dan negatif yang perlu dengan segera mendapat pemecahan.
5. Dalam bidang pemahaman al-Qur’an dan Hadits, telah melahirkan berbagai macam pendekatan, metode dan corak penafsiran. Metode Maudhu’iy perlu terus dikembangkan, karena untuk saat ini dapat disebut sebagai metode yang mampu menangkap pesan Allah yang ada dalam al-Qur’an, terbebas dari pandangan aliran dan madzhab serta pembahasan yang bertele-tele, juga mampu memecahkan persoalan kehidupan dengan sinar al-Qur’an.

WALLOHU A’LAM

Gus mus

KH. Mustofa Bisyri

gusmus
MESKI Kiai Haji Achmad Mustofa Bisri dikenal sangat mobil. Kesana-kemari tak kenal lelah, baik untuk ceramah, diskusi, rapat NU, silaturahmi atau baca puisi. Tapi di bulan Ramadhan, jangan harap bisa ‘mengeluarkan’ Gus Mus —panggilan akrabnya— dari Pondok Pesantrennya di Rembang.

Kenapa ?

Sebab tradisinya adalah : selama bulan Puasa, Gus Mus pilih kumpul dengan keluarga dan para santrinya.

Dia juga membiasakan membaca takbir dan shalawat 170 kali sehabis Maghrib dan Isya.

SANGAT boleh jadi, masa-masa bulan suci itu, juga digunakan Gus Mus untuk melakukan dua ‘hobi’ lainnya : menulis puisi dan melukis.

Untuk kegemarannya menulis, memang ada yang mengatakan sebagai nyleneh. Padahal, menurutnya, “bersastra itu sudah menjadi tradisi para ulama sejak dulu !”

“Sahabat-sahabat Nabi itu semua penyair, dan Nabi Muhammad SAW pun gemar mendengarkan mereka bersyair. Pernah Rasulullah kagum pada syair ciptaan Zuhair, sehingga beliau melepas pakaian dan menyerahkan kepadanya sebagai hadiah !”

ADI, kiai berpuisi itu tidak nyleneh ?

“Sebenarnya bukan saya yang nyleneh, tapi mereka !”

Mereka siapa ?

Yang mengatakan dirinya nyleneh !

Sebab, menurutnya, “sastra itu diajarkan di pesantren. Dan kiai-kiai itu, paling tidak tiap malam Jumat, membaca puisi. Burdah dan Barzanji itu kan puisi dan karya sastra yang agung ?!”

“Al Qur’an sendiri merupakan mahakarya sastra yang paling agung !”

***
ACHMAD MUSTOFA BISRI dilahirkan di Rembang pada 10 Agustus 1944.

Selain mendapat gemblengan dari keluarga sendiri yang memang keluarga muslim yang sangat taat. Gus Mus memperoleh gemblengan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang sohor itu. Kenangannya pada pesantren ini, antara lain terekam dalam puisinya berjudul Lirboyo, Kaifal Haal?

“Lirboyo, masihkah penghuni-penghunimu percaya pada percikan/ sawab-sawab mbah Manaf, mbah Marzuqi, dan mbah Mahrus rachimakumullah? / ataukah seperti dimana-mana itu tidak mempunyai arti apa-apa / kecuali bagi dikenang sesekali dalam upacara haul yang gegap gempita”

SELAIN memperdalam ilmu di Lirboyo, Gus Mus juga suntuk di Pondok Pesantren Krapyak, Yogya. Puncaknya belajar di Universitas Al Azhar, Kairo.

Di Al Azhar itulah, untuk pertama kali Gus Mus bertemu dan berkenalan dengan Gus Dur, yang kemudian menjadi Presiden keempat Republik Indonesia.

Seperti pengakuannya sendiri, mereka kemudian tinggal di satu kamar. Gus Dur banyak membantu Gus Mus selama di perguruan tinggi tersebut. Bahkan sampai memperoleh beasiswa.

Uniknya, atau ironisnya, Gus Dur sendiri kemudian tidak kerasan di Al Azhar. Dia DO. Lalu meneruskan studinya di Irak.

***
PULANG ke tanah air awal 1970-an, Gus Mus langsung… dinikahkan dengan Siti Fatwa. Gadis teman Gus Mus sendiri di masa kecil.

Jadi, agaknya, selama Gus Mus studi di Al Azhar, kedua orangtua mereka mematangkan rembuk untuk menjodohkan putera-puteri mereka!

“Banyak kenangan di antara kami” kata Gus Mus pula. “Semasa kecil saya kan sering menggodanya!”

Pasangan ini kemudian dianugerahi tujuh putra-putri. Sikap Gus Mus yang liberal didasari kasihsayang, agaknya sangat mengesankan putra-putrinya. Buktinya, Kautsar Uzmut, putri keduanya, memujanya. “Dia itu tipe Abah yang top!” katanya. “Saya sendiri memfigurkan pria seperti Abah yang nanti menjadi suami atau pendamping saya. Tapi terus terang, sangat sulit!”

Disadur dari GusMus.NET

~ oleh ulil abshor annabiry di/pada 17 Juni 2009.

Zionisme barangkali merupakan satu-satunya paham modern yang oleh sebagian besar umat Islam dianggap sebagai mimpi buruk yang terus menghantui sekaligus melukai mereka. Di mata mereka, gerakan nasionalisme Yahudi yang lahir di Eropa pada abad ke 19 dan lalu mendasari berdirinya negara Israel pada tahun 1948 tak lebih dari sebentuk kolonialisme, atau wujud konspirasi Yahudi untuk menghancurkan dunia Islam. Inilah yang membuat mereka sontak antipati dan langsung pasang kuda-kuda begitu zionisme disebut. Hampir tidak ada upaya kaum Muslim untuk menghadapi zionisme dengan pendekatan yang lebih “dingin”, misalnya dengan melihatnya dari perspektif-perspektif Yahudi; mengapa zionisme muncul, mengapa sebagian Yahudi menentangnya dan sebagian yang lain mendukungnya, dan mengapa di Israel muncul gerakan pasca-zionisme. Diskusi Jaringan Islam Liberal kali ini akan membahas relasi zionisme dengan pergulatan kaum Yahudi dengan pencerahan, kaitannya dengan persoalan Yahudi di Eropa, dan pertentangan antara zionisme politik versus kultural. Kita juga akan membahas argumen-argumen sekular dan agamis kaum Yahudi yang menentang zionisme dari awal kelahirannya sampai sekarang, dan dilema negara Israel yang mengklaim sebagai negara Yahudi sekaligus demokratis terutama dalam hubungannya dengan persoalan Arab

sinopsis

Sinopsis Film “3 Doa 3 Cinta”

Huda, Rian dan Syahid adalah tiga remaja yang tinggal di pesantren di sebuah kota kecil yang terletak di daerah Jawa Tengah. Mereka punya rencana dalam hidup

mereka masing-masing setelah lulus dari pesantren dan SMA sebulan lagi. Mereka memiliki sebuah lokasi rahasia, sebuah dinding tua di belakang pesantren, di mana

mereka menulis harapan-harapan mereka di dinding. Hingga sebuah situasi merubah hidup mereka.

Huda (Nicholas Saputra) adalah santri yang patuh pada gurunya, Kiai Wahab, yang telah mengasuhnya sejak ibu kandungnya meninggalkannya begitu saja di pesantren

itu. Huda mulai merencanakan hidupnya di luar pesantren nanti. Yaitu mencari ibunya yang kabarnya berada di suatu tempat di Jakarta. Huda bertemu dengan Dona

Satelit (Dian Sastrowardoyo) seorang penyanyi dangdut pemula yang sangat seksi ketika di panggung dan terobsesi menjadi bintang terkenal di Jakarta.

Rian (Yoga Pratama) santri dari suatu kota besar. Dia mendapatkan sebuah kado handycam dari ibunya pada saat ulang tahunnya. Rian seolah melihat dunia baru dari

balik viewfinder, ia asyik merekam berbagai peristiwa yang ada di lingkungannya. Rombongan pasar malam, terutama layar tancap, yang kebetulan sedang singgah di

desa itu, membuat Rian semakin obsesif terhadap video kamera.

Syahid (Yoga Bagus), berasal dari keluarga miskin. Karena situasi sosial dan psikologis dirinya, membuat Syahid tergabung dalam kelompok Islam garis keras yang

berada di luar pesantren. Terlebih ketika sawah milik orang tua Syahid dibeli paksa oleh sebuah perusahaan ternama milik Amerika untuk dijadikan pabrik. Syahid

merencanakan sesuatu yang besar dalam hidupnya yang akan memberikan dampak bagi kedua temannya.

Duration : 113 menit
Producer : Triximages
Genre : Drama; Remaja
Release : 2008
Director : Nurman Hakim
Cast :

Terorisme dan masalah-masalah Sosial

In Pengajian | no comments yet | permalink

<!–

Written by
Redaktur

–>

Terorisme dan Masalah-Masalah Sosial

am

KH. AGUS MIFTACH
agus_miftach@yahoo.co.id

Assalamu’alaikum War. Wab.

Bismillahirrahmanirrahiem,

lillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wa-in tubduu maa fii anfusikum aw tukhfuuhu yuhaasibkum bihi allaahu fayaghfiru liman yasyaau wayu’adzdzibu man yasyaau waallaahu ‘alaa kulli syay-in qadiirun

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi. Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka, Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”; Al-Baqoroh : 284.

Kita akan membahas ayat ini dengan pendekatan eklektik-multiperspektif, baik dari perspektif teologis, antropologis, historiografis maupun psikologis dll secara holistis dan komprehensif, agar dapat dieproleh pemahaman yang utuh dan menyeluruh serta hikmah yang setinggi-tingginya dari kandungan ayat ini, insya Allah.

Kiri ke kanan : N. Kukuh anggota JAI yang juga Ketua Lasatgassus FPN, Sholeh Hudi Ketua Umum BEM PTIQ, Lukman Hakim Ketua Umum Pemuda FPN, Ust. Fulan, Ust. Agus Abu Bakar Ketua Partai Demokrat, KH. Agus Miftach Ketua Umum FPN, Ir. Saleh Khalid eks. Ketua Umum PPP Reformasi, Pdt. Chevrolet pimpinan Sinode Methodis dan Erly Bonardi anggota Jemaat Pantekosta. Berkumpul di Majelis Pengajian ke 230, Jum’at malam 17/7, setelah terror Bom Jum’at pagi 17/7 yang meledakkan Hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan yang menewaskan 9 orang dan luka-luka 39 orang (data sementara).

Pokok Bahasan

Inti perdebatan dalam ayat ini adalah kalimat,”wa in tubduu maa fii anfusikum au tuhfuuhu yuhaasibkum bihillah” : Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.”

Ayat yang bermaksud memverifikasi isi hati ini membuat para sahabat mengajukan keberatan kepada Rasulullah saw. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah,”Tatkala ayat ini turun, para sahabat berlutut dihadapan Rasulullah saw seraya berkata,’Ya Rasulullah, kami telah dibebani berbagai amal seperti shalat, shaum, jihad dan sedekah. Sekarang ada ayat ini yang diturunkan kepada engkau, kami tidak sanggup mengamalkannya.’Rasulullah bersabda,’Apakah kamu hendak mengatakan apa yang telah dikatakan oleh ahli kitab terdahulu, yaitu’kami mendengar namun kami mendurhakainya?’ Katakahlah,’Kami dengar dan kami taat, kami memohon ampunan-Mu, ya Tuhan kami, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.’ Lalu turunlah ayat 285, dan selanjutnya ayat 286 yang menasakh ayat 284, yaitu : “

laa yukallifu allaahu nafsan illaa wus’ahaa lahaa maa kasabat wa’alayhaa maa iktasabat rabbanaa laa tu-aakhidznaa in nasiinaa aw akhtha/naa rabbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishran kamaa hamaltahu ‘alaa alladziina min qablinaa rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihi wau’fu ‘annaa waighfir lanaa wairhamnaa anta mawlaanaa faunshurnaa ‘alaa alqawmi alkaafiriina

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa),”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami khilaf. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”; Al-Baqoroh : 286.

Dengan turunnya ayat ini,maka tidak ada lagi sesuatupun yang perlu dikhawatirkan dari suatu ketertekanan psikologis akibat verifikasi gagasan di tingkat idea yang masih berada di alam batin. Verifikasi baru dilakukan terhadap perbuatan nyata di alam realitas. Bahkan dalam shahihain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,”Allah Ta’ala berfirman,’Jika hamba-Ku berniat melakukan keburukan, maka belum dituliskannya (satu keburukan). Jika dia jadi melakukannya, maka Aku menuliskannya sebagai satu keburukan. Jika dia berniat melakukan kebaikan, sedang dia belum lagi melakukannya, maka Aku menuliskannya sebagai satu kebaikan. Dan jika dia melakukannnya, maka Aku menuliskannya sebagai 10 hingga 700 kali kebaikan.’”

Hadist ini lebih menampakkan sifat khas Islam yang rahmatan, yang mengapresiasi suatu kebajikan bahkan masih di tingkat idea di alam batin, dan di apresiasi lagi pada tingkat yang tertinggi ketika menjadi realitas, artinya setelah dilaksanakan sebagai perbuatan nyata.

Ayat-ayat ini mengingatkan kita betapa mendasarnya gagasan-gagasan ditingkat idea. Ini akan membentuk perilaku atau aktivitas. Maka pembentukan basis idea di alam batin menjadi sangat penting. Batin yang kosong pengetahuan dan iman akan mudah terjerumus kepada hal-hal yang absurd dan membentuk perilaku individu yang menyimpang. Ini barangkali bisa menjelaskan tentang orang-orang yang terlibat pada berbagai aksi yang aneh dan menyimpang, seperti orang-orang yang menjadi pelaku bom bunuh diri. Mereka memiliki keberanian untuk mati atas dasar sebuah cita-cita yang dibentuk di alam idea. Tentu ada suatu ‘brain washing’ seperti tersirat dalam ayat 284 yang kemudian di nasakh ayat 286 (Riwayat dari Ali, Ibnu Mas’ud, Ka’abul Ahbar, asy-Sya’bi, an-Nakaha’i, Muhammad bin Ka’ab al-Kurdhi, Ikrimah, Sa’id bin Jubair dan Qatadah).

Melihat kenyataan terorisme dengan kesanggupan mati, maka saya berpendapat bahwa ayat 284 tetap berlaku, dalam kasus ini saya berpendapat tidak berlaku nasakh-mansukh. Betapa pentingnya gagasan yang terbentuk di alam batin. Oleh sebab itu suatu verifikasi psikologis pada tahap sangat awal yaitu di alam idea ternyata memiliki pengaruh yang luas terhadap peradaban. Suatu doktrin jihad yang menyimpang yang ditanamkan sejak di alam idea, ternyata mampu membentuk perilaku ekstrem dengan keberanian tanpa batas, yang melahirkan aksi terorisme di dunia dengan bom bunuh diri, seperti yang berkali-kali di alami bangsa Indonesia, yang terakhir terror bom Jum’at 17/7 jam 7.47 di Mega Kuningan, Jakarta Selatan yang meledakkan Hotel Ritz Carlton dan Hotel JW. Marriot yang menelan 9 korban tewas dan 39 luka-luka (data sementara). Penting bagi para ulama untuk menerapkan ayat 284 diatas dengan melakukan seleksi dan verifikasi pendidikan kejiwaan para santri/siswa pada tahap yang saat awal yaitu pada tahap pertumbuhan psikokognitif.


Teror Bom


Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton berantakan dilanda bom, Jum’at 17/7, jam 07. 47 dan 07.52.

Terorisme dan masalah-masalah sosial

Centre capital dan centre production yang menjadi ciri ekonomi neolib telah menciptakan kemakmuran bagi segelintir orang, sementara sebagian besar rakyat Indonesia hidup dalam kesulitan. Kemiskinan dan pengangguran berjumlah besar dengan kemerosotan moral di desa-desa. Kelahiran diluar nikah bahkan mencapai 900 000/th. Boleh di kata sebagian rakyat Indonesia hidup dalam keputusasaan. Sementara sebagian kecil yang lain hidup dalam kemewahan. Terjadi kesenjangan yang lebar antara kaum kaya dan kaum miskin. Ini menjadi lahan yang subur bagi berkembangnya ajaran fundamentalisme keagamaan yang menjadi landasan filosofi terorisme dengan bom bunuh dirinya itu.


Profil teroris anggota Jamaah Islamiah, Mas Selamat Kastari, ditangkap di Singapura Mei 2009

Wahabisme dan Sunni Salafiyah memiliki akar-akar yang cukup baik di Indonesia, tetapi kedua corak aliran itu telah mengalami akulturasi di Indonesia sehingga bentuknya menjadi moderat dengan factor urf (budaya) yang mempengaruhi social behavior. Namun demikian kekerasan agama juga memiliki akarnya di Idonesia, sejak DI/TII, Komando Jihad, NII hngga Jamaah Islamiyah yang bercorak Arabisme. Sejauh ini kelompok garis keras ini merupakan kelompok kecil yang cenderung tertutup. Belakangan Wahabisme dan Sunni Salafiyah mendapat pengaruh Arabisme yang cukup kuat yang memunculkan neo-wahabisme dan neo-Salafiyah yang mengubah watak kedua aliran itu menjadi sempit dan sangat keras.

Wahabisme dan Sunni Salafiyah memiliki kedekatan dalam doktrin. Wahabisme yang didirikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdel Wahab di Hejaz pada sekitar abad ke 19 mencanangkan pemurnian Islam dengan hanya berdasarkan Qur’an dan Sunnah. Diluar itu dianggap bid’ah (heretic). Sejalan dengan keyakinan itu Wahabisme berprinsip menafsirkan kitab suci Al-Qur’an secara harfiah, hitam-putih. Inilah sumber kekerasan itu.

Sementara itu Sunni Salafiyah menurut Imam al-Asya’ari dan Imam al-Maturidi berpendapat bahwa dasar-dasar agama harus dikembalikan kepada sumbernya yang asli yang kuno (Salaf). Mereka menolak hal-hal baru dan mengembalikan semua masalah keagamaan kepada prinsip Salaf, yaitu kembali ke dasar kuno yang dianggap lebih otentik. Ini juga melahirkan sikap militant yang menjadi sumber kekerasan. Kedua kelompok itu melakukan takfir, yaitu mengkafirkan semua yang tidak berada dalam lingkungan ajaran mereka. Inilah yang menimbulkan sikap permusuhan yang bersifat laten terhadap mainstream peradaban sekuler yang dianggap kafir.

Kedua kelompok keras itu berfantasi melakukan Jihad melawan Barat yang dianggap telah merampas kedaulatan Islam terhadap dunia pada pertengahan abad 19 yang berlanjut dengan penjajahan Barat. Mereka menganggap diri mereka sebagai para mujahid di garis depan yang tengah berperang melawan dominasi Barat yang dianggap kafir. Fantasi ini menjadi semakin menarik sebagai pelarian dari kesulitan hidup arus bawah di Indonesia.

Fakta menunjukkan bahwa para pelaku bom bunuh diri di Indonesia di rekrut dari kalangan ekonomi lemah. Artinya jika pemerintah mampu melakukan perbaikan ekonomi di level grassroot degan sendirinya akan mempersempit ruang gerak terorisme. Tidak kalah petingnya adalah dakwah keagamaan yang rasional, modern dan moderat yang akan membawa masyarakat kepada pemahaman keagamaan yang toleran dan humanis yang sudah barang tentu akan menjauhkan umat dari faham-faham sempalan yang keras itu.

Maka penanggulangan terhadap resesi ekonomi dan dakwah tajdid (pembaruan) yang intensif akan merupakan obat mujarab yang menghentikan laju ideology terorisme di basis-basis Islam. Artinya penanggulangan kemiskinan dan pengangguran serta dakwah keagamaan yang moderat menjadi kunci pancairan kekerasan ideology fundamentalis. Sekian, terima kasih.

Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.

Jakarta, 24 Juli 2009,
Pengasuh,

KH. AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional

Dua Kepala Ini Diduga Keras Pelaku Pengeboman

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian Republik Indonesia menduga keras dua kepala yang ditemukan di Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott sebagai pelaku bom bunuh diri. Satu kepala yang ada di Hotel JW Marriott memiliki kemiripan dengan penghuni kamar nomor 1808 hotel berbintang lima tersebut.

“Dari pengumpulan serpihan di Hotel JW Marriott, di samping potongan kepala, ada potongan tubuh dengan ukuran cukup besar yang diduga berasal dari satu tubuh,” ujar Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Mabes Polri Brigadir Jenderal Polisi Eddy Suparwoko dalam konferensi pers di Jakarta Media Crisis Center, Jakarta, Rabu (22/7).

“Kami sedang mencoba mencari pembanding dari dugaan yang mengarah ke sana. Lalu, ada kemiripan dengan penghuni kamar 1808,” katanya.

Menurut Eddy, kemiripan ini dilihat dari (yang polisi sebut) peralatan-peralatan yang dimiliki. Dari peralatan tersebut, kata dia, sangat mungkin tubuh itu berada di kamar 1808 JW Marriot. Sementara itu, kepala yang ditemukan di Hotel Ritz-Carlton diyakini sebagai pelaku setelah polisi meminta keterangan dari sejumlah saksi. Keyakinan ini diperkuat jika dilihat dari posisi ledakan.

Saat ini, polisi masih mencari identitas dua pelaku bom bunuh diri tersebut. Oleh karena itu, mulai Rabu ini polisi mulai menyebarkan dua foto pengebom. Jika ada warga yang mengenali atau memiliki informasi tentang kedua kepala itu, Polri meminta untuk menginformasikan ke nomor 021-7256586.

Entri Lebih Baru »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.