Profil Aktivis

Foto1795Pohon Pisang Tangerang Selatan

Berpikir Masa depan.

Foto1952

Perpustakaan Munir Sadzali Jakarta

Ma2s aliMimpi seorang Profesor

Ma2s DastirAktivis Indonesia penuh cita-cita mulia

Album Datsir

Ali mudas Loby Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Melamun

Pengertian dan Unsur-Unsur Pendidikan

Bab II Pengertian dan Unsur-Unsur Pendidikan
Oleh: Alimudasir

Seorang calon pendidik hanya dapat melaksanakan tugasnya denga nbaik jika memperoleh jawaban yang jelas dan benar tentang apa yang dimaksud pendidikan. Jawaban yang benar tentang pendidikan diperoleh melalui pemahaman terhadap unsur-unsurnya, konsepdasar yang melandasinya, dan wujud pendidikan sebagi sistem. Bab II ini akan mengkaji pengertian pendidikan,unsur-unsur pendidikan, dan sistem pendidikan.

A. PENGERTIAN PENDIDIKAN

1. Batasan tentang Pendidikan

Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya.

a. Pendidikan sebagai Proses transformasi Budaya

Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain.

b. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi

Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagi suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi melalui 2 sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri.

c. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warganegara

Pendidikan sebagai penyiapan warganegara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.

d. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja

Pendidikan sebagai penyimpana tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar utuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. Ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia.

e. Definisi Pendidikan Menurut GBHN

GBHN 1988(BP 7 pusat, 1990: 105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: pendidikan nasiaonal yang berakar pada kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk memingkatkan kecerdasan serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

2. Tujuan dan proses Pendidikan

a. Tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dazn merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.

b. Proses pendidikan

Proses pendidikan merupakan kegiatan mobilitas segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan, Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya , pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup makro, meso, mikro. Adapun tujuan utama pemgelolaan proses pendidikan yaitu terjadinya proses belajar dan pengalaman belajar yang optimal.

3. Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat (PSH)

PSH bertumpu pada keyakinan bahwa pendidikan itu tidak identik dengan persekolahan, PSH merupakan sesuatu proses berkesinambungan yang berlangsung sepanjang hidup. Ide tentang PSH yang hampir tenggelam, yang dicetuskan 14 abad yang lalu, kemudian dibangkitkan kembali oleh comenius 3 abad yang lalu (di abad 16). Selanjutnya PSH didefenisikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman pendidikan. Pengorganisasian dan penstruktursn ini diperluas mengikuti seluruh rentangan usia, dari usia yang paling muda sampai paling tua.(Cropley:67)

Berikut ini merupakan alasan-alasan mengapa PSH diperlukan:

a. Rasional

b. Alasan keadilan

c. Alasan ekonomi

d. Alasan faktor sosial yang berhubungan dengan perubahan peranan keluarga, remaja, dan emansipasi wanita dalam kaitannya dengan perkembangan iptek

e. Alasan perkembangan iptek

f. Alasan sifat pekerjaan

4. Kemandirian dalam belajar

a. Arti dan perinsip yang melandasi

Kemandirian dalam belajar diartikan sebagai aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih didorong oleh kamauan sendiri, pilihan sendiri, dan tanggung jawab sendiri dari pembelajaran. Konsep kemandirian dalam belajar bertumpu pada perinsip bahwa individu yang belajar akan sampai kepada perolehan hasil belajar.

b. ­Alasan yang menopang

Conny Semiawan, dan kawan-kawan (Conny S. 1988; 14-16) mengemukakan alasan sebagai berikut:

Ø Perkembangan iptek berlangsung semakin pesat sehingga tidak mungkin lagi para pendidik(khususnya guru) mengajarkan semua konsep dan fakta kepada peserta didik.

Ø Penemuan iptek tidak mutlak benar 100%, sifatnya relatif.

Ø Para ahli psikologi umumnya sependapat, bahwa peserta didik mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh konkret dan wajar sesuai dengan situasi dan kondidi yang dihadapi dengan mengalami atau mempraktekannya sendiri.

Ø Dalam proses pendidikan dan pembelajaran pengembangan konsep seyogyanya tidak dilepaskan dari pengembangan sikap dan penanaman nilai-nilai ke dalam diri peserta didik.

B. UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN

Proses pendidikan melibatkan banyak hal yaitu:

1. Subjek yang dibimbing (peserta didik).

2. Orang yang membimbing (pendidik)

3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)

4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)

5. Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan)

6. Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode)

7. Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan)

Penjelasan:

1. Peserta Didik

Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebutkan demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya.

Ciri khas peserta didik yang perlu dipahami oleh pendidik ialah:

a. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik.

b. Individu yang sedang berkembang.

c. Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi.

d. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.

2. Orang yang membimbing (pendidik)

Yang dimaksud pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkunga yaitu lingkungankeluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masayarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, latihan, dan masyarakat.

3. Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif)

Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi isi, metode, serta alat-alat pendidikan.

4. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan)

a. Alat dan Metode

Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara khusus alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat pendidikan dibedakan atas alat yang preventif dan yang kuratif.

b. Tempat Peristiwa Bimbingan Berlangsung (lingkungan pendidikan)

Lingkungan pendidikan biasanya disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.

C. PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM

1. Pengertian Sistem

Beberapa definisi sitem menurut para ahli:

a. Sistem adalah suatu kebulatan keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau utuh. (Tatang M. Amirin, 1992:10)

b. Sistem meruapakan himpunan komponen yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan. (Tatang Amirin, 1992:10)

c. Sistem merupakan sehimpunan komponen atau subsistem yang terorganisasikan dan berkaitan sesuai rencana untuk mencapai suatu tujuan tertentu. (Tatang Amirin, 1992:11)

2. Komponen dan Saling Hubungan antara Komponen dalam Sistem Pendidikan.

Pendidikan sebagai sebuah sistem terdiri dari sejumlah komponen. Komponen tersebut antara lain: raw input (sistem baru), output(tamatan), instrumentalinput(guru, kurikulum), environmental input(budaya, kependudukan, politik dan keamanan).

3. Hubungan Sistem Pendidikan dengan Sitem Lain dan Perubahan Kedudukan dari Sistem

Sistem pendidikan dapat dilihat dalam ruang lingkup makro. Sebagai subsistem, bidang ekonomi, pendidikan,dan politik masing-masing-masing sebagai sistem. Pendidikan formal, nonformal, dan informal merupakan subsistem dari bidang pendidikan sebagai sistem dan seterusnya.

4. Pemecahan masalah pendidikan secara sistematik.

a. Cara memandang sistem

Perubahan cara memandang suatu status dari komponen menjadi sitem ataupunsebaliknya suatu sitem menjadi komponen dari sitem yang lebih besar, tidak lain daripada perubahan cara memandang ruang lingkup suatu sitem atau dengan kata lain ruang lingkup suatu permasalahan.

b. Masalah berjenjang

Semua masalah tersebut satu sama lain saling berkaitan dalam hubungan sebab akibat, alternatif maslah, dan latar belakang masalah.

c. Analisis sitem pendidikan

Penggunaan analisis sistem dalam pendidikan dimaksudkan untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan dengan cara yang efesien dan efektif. Prinsip utama dari penggunaan analisis sistem ialah: bahwa kita dipersyaratkan untuk berpikir secra sistmatik, artinya harus memperhitungkan segenap komponen yang terlibat dalam maslah pendidikan yang akan dipecahkan.

d. Saling hubungan antarkomponen

Komponen-komponen yang baik menunjang terbentuknya suatu sistem yang baik. Tetapi komponen yang baik saja belum menjamin tercapainya tujuan sistem secara optimal, manakala komponen tersebut tidak berhibungan secra fungsional dengan komponen lain.

e. ­Hubungan sitem dengan suprasistem

Dalam ruang lingkup besar terlihat pula sistem yang satu saling berhubungan dengan sistem yang lain. Hal ini wajar, oleh karena pada dasarnya setiap sistem itu hanya merupakan satu aspek dari kehidupan. Sdangkan segenap segi kehidupan itu kita butuhkan, sehingga semuanya memerlukan pembinaandan pengembangan.

5. Keterkaitan antara pengajaran dan pendidikan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari persoalan pengajaran dan pendidikan adalah:

a. pengajaran dan pendidikan dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Masing-masing saling mengisis.

b. Pembedaan dilakukan hanya untuk kepentingan analisis agar masing-masing dapat dipahami lebih baik.

c. Pendidikan modern lebih cenderung mengutamakan pendidikan, sebab pendidikan membentuk wadah, sedangkan pengajaran mengusahakan isinya. Wadah harus menetap meskipun isi bervariasi dan berubah.

6. Pendidikan prajabatan (preservice education) dan pendidikan dalam jabatan (inservice education) sebagai sebuah sistem.

Pendidikan prajabatan berfungsi memberikan bekal secara formal kepada calon pekerja dalam bidang tertentu dalam periode waktu tertentu. Sedangkan pendidikan dalam jabatan bermaksud memberikan bekal tambahan kepada oramg-orang yang telah bekerja berupa penataran, kursus-kursus, dan lain-lain. Dengan kata lain pendidikan prajabatan hanya memberikan bekal dasar, sedangkan bekal praktis yang siap pakai diberikan oleh pendidikan dalam jabatan.

7. Pendidikan formal, non-formal, dan informal sebagai sebuah sistem.

Pendidikan formal yang sering disebut pendidikan persekolahan, berupa rangkaian jenjang pedidikan yang telah baku, misalnya SD,SMP,SMA, dan PT. Pendidikan nonformal lebih difokuskan pada pemberian keahlian atau skill guna terjun ke masyarakat. Pendidikan informal adalah suatu fase pendidikan yang berada di samping pendidikan formal dan nonformal.

­Dapat disimpulkan bahwa pendidikan formal, nonformal, dan informal ketiganya hanya dapat dibedakan tetapi sulit dipisah-pisahkan karena keberhasilan pendidikan dalam arti terwujudnya keluaran pendidikan yang berupa sumberdaya manusia sangat bergantung kepada sejauh mana ketiga sub-sistem tersebut berperanan.

Sumber Bacaan: Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Download Versi Microsoft OfficeWord:hartoto-bab-ii-pengertian-dan-unsur-unsur-pendidikan1
Posted in Pendidikan. Tags: manusia utuh, Pendidikan, pendidikan formal, pendidikan informal, pendidikan nonformal, pengertian pendidikan, unsur-unsur pendidikan. 27 Agustus 2009. compasscenter.

Awal Ramadhan

(Materi Pengajian Hari Jumat Malam, tanggal 21 Agustus 2009, pukul 19.30 WIB s.d. selesai)

Oleh K.H. Agus Miftach

…Puasa bulan Ramadhan adalah satu ketentuan yang muhkamat, namun teknis pelaksanaannya menimbulkan perbedaan diantara dua faham, yaitu faham ru’yat (melihat hilal) dan faham hisab (perhitungan kalender). Kedua-duanya sah, yang paling baik kedua metode itu digabungkan menjadi ru’yat wal-hisab. Tetapi di Indonesia sering dipahami secara parsial. Inilah sumber perbedaan penetapan awal Ramadhan dan awal Syawal. Meskipun sah, ini mengesankan adanya perpecahan. Bahkan ada kesan perbedaan ini sengaja ditonjolkan untuk menunjukkan otoritas masing-masing dalam semangat persaingan yang kurang sehat.[….]

MENAHAN MARAH

Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhundri r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Mrah itu bara api maka siapa yang merasakan demikian, jika ia sedang berdiri makan hendaklah duduk, bila ia sedang duduk hendaklah bersandar (berbaring).”

Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Alkhundri r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Awaslah kamu dari marah-marah, kerana marah itu bererti menyalakan api dalam kalbu anak Adam, tidakkah kamu melihat seseorang yang marah itu merah matanya dan tegang urat-uarat lehernya, kerana itu bila seseorang merasakan yang demikian hendaklah berbaring dan meletakkan badannya ditanah.”

Sesungguhnya ada diantara kamu orang yang lekas marah tetapi juga lekas reda, maka ini seimbang dan ada yang lambat marah dan lambat sembuh (reda), ini juga seimbang, dan sebaik-baik kamu lambat marah dan cepat re;a. dan sejahat-jahat kamu yang cepat marah dan lambat sembuhnya.”

Abu Umamah Albahili r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Siapa yang dapat menahan marah padahal ia dapat (kuasa) untuk memuaskan marahnya itu, tetapi tidak dipuaskan bahkan tetap ditahan/disabarkan, maka Allah s.w.t. mengisi hatinya dengan keridhoan pada hari kiamat.”

Tercantum dalam Injil: “Hai anak Adam,ingatlah kepadaKu ketika kau marah, nescaya Aku ingat kepadamu diwaktu Aku marah (Yakni akan dirahmati oleh Allah s.w.t.) Dan relakan hatimu dengan pembelaanKu kepadamu, sebab pembelaanKu kepadamu lebih baik dari pembelaanmu terhadap dirimu sendiri.”

Umar bin Abdul Aziz berkara kepada orang yang telah memarahkannya: “Andaikan engkau tidak membikin marahku, nescaya sudah saya beri hukuman.” Yakni Umar ingin menurut kepada unjuran Allah s.w.t. didalam ayat yang berbunyi: “Walkaa dziminal ghaidha.” (Yang bermaksud): “Dan mereka yang dapat menahan marah.” kerana itu, ketika ia mendapat kesempatan untuk menahan maka langsung dipergunakan.

Umar bin Abdul Aziz melihat seorang yang mabuk, maka ketika akan ditangkap untuk dihumkum dera, tiba-tiba dimaki oleh orang yang mabuk itu, maka Umar kembali tidak jadi menghukum dera, dan ketika ditanya: “Ya Amirul mukminin, mengapakah setelah ia memaki kepadamu tiba-tiba engkau tinggalkan?” Jawab Umar: “Kerana ia menjengkel aku maka andaikan aku hukum (pukul) mungkin kerana murka ku kepadanya, dan saya tidak suka memukul seorang hanya membela diriku (untuk kepentingan diriku).”

Maimun bin Mahran ketika budaknya menghidangkan makanan dan membawa kuah, tiba-tiba tergelincir kakinya sehingga tertuang kuah itu kebadan Maimun dan ketika Maimun mahu memukul budak itu, tiba-tiba ia berkata: “Tuanku, laksanakanlah ajaran Allah s.w.t. (Yang berbunyi): “Walkadhiminal ghaidha.” (Yang bermaksud): “Dan mereka yang menahan marah.” Maimun berkata: “Baiklah.” Maka budak itu berkata: “Kerjakan lanjutannya (ayat yang berbunyi: “Wal afina aninnas.” (Yang bermaksud): “Dan engkau memaafkan orang.” Maimun berkata: “Saya maafkan engkau.” Budak itu berkata: “Kerjakan lanjutannya (ayat yang berbunyi: “Wallahu yhibbul muhsinin.” (Yang bermaksud): “Dan Allah kasih kepada orang yang berbuat kebaikan.” Maimun berkata: “Saya berbuat baik kepadamu, maka engkau kini merdeka kerana Allah s.w.t.”

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Siapa yang tidak mempunyai tiga sifat, tidak dapat merasa manisnya iman iaitu:

* Kesabaran untuk menolak kebodohan orang yang bodoh
* Warak yang dapat mencegah dari yang haram
* dan akhlak untuk bergaul dengan manusia (dan akhlak untuk masyarakat)

Ada seorang yang mempunyai kuda yang sangat dibanggakan, tiba-tiba pada suatu hari ia melihat kudanya patah satu kakinya sehingga tinggal tiga kaki, lalu ia bertanya kepada budaknya: “Sipa yang berbuat itu?” Jawab budaknya: “Saya.” Ditanya lagi: “Mengapa?” jawab budaknya: “Supaya engkau risau.” Berkata orang itu: “Saya akan membalas menjengkelkan siapa yang menyuruh engkau berbuat itu (yakni syaitan laknatullah).” Maka ia berkata kepada budaknya: “Pergilah engkau, saya merdekakan dan itu kuda untukmu.”

Abul Laits berkata: “Seharusnya seorang mukmin bersifat sabar, tenang sebab itu termasuk sifat orang muttaqin yang dipuji oleh Allah s.w.t.

Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi: “Walaman shobara waghafara inna dzailika lamin azmilumur.” (Yang bermaksud): “Dan siapa yang sabar dan memaafkan maka itu termasuk seutama-utamanya sesuatu.”

Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): “Wala tastawil hasanatu walas sayyi’atu idfa billati hiya ahsan fa idzalladzi bainaka wa bainahu adaa watun ka’annahu waliyyun hamim.” (Yang bermaksud): “Dan tidak dapat disamakan kebaikan dengan kejahatan, tolaklah segala sesuatu itu dengan cara yang baik, tiba-tiba seorang yang musuh denganmu dapat berubah menjadi kawan yang akrab.”

Juga Allah s.w.t. memuji Nabi Ibrahim a.s. dialam ayat (Yang berbunyi): “Inna Ibrahim lahalimun awwahun mubin.” (Yang bermaksud): “Ssesungguhnya Ibrahim seorang yang sabar, selalu mengingati dosa dan kesalahan dirinya dan bertaubat.”

Juga Allah s.w.t. berfirman didalam ayat (Yang berbunyi): “Fasbir kama shobaro ulul azmi minarrusuli.” (Yang bermaksud): “Maka sabarlah sebagaimana kesabaran orang-orang yang bersemangat besar dari para rasul sebelummu.”

Alhasan ketika mengingati ayat (Yang berbunyi): “Wa idza khatobahumul jaa hiluuna qaalu: salaamaa.” (Yang bermaksud): “Dan bila dicaci maki oleh orang-orang yang bodoh-bodoh, mereka sabar tidak melayan.”

Wabh bin Munabbih berkata: “Ada seorang ahli ibadat Bani Israil akan disesatkan oleh syaitan laknatullah tetapi tidak dapat, maka pada suatu hari ia keluar untuk suatu hajat kepentingan, maka diikuti oelh syaitan laknatullah kalau-kalau ia mendapat kesempatan, maka syaitan laknatullah berusaha dari ayahwat dan marahnya juga tidak dapat, maka diusahakan dari ketakutannya, maka dibayangkan kepadanya seolah-olah akan dijatuhi batu bukit yang besar, tetapi ia selalu berdzikir kepada Allah s.w.t. sehingga terhindar, dan adakalanya semua itu tidak dihiraukan, dan adakalanya berupa ular yang melingkar dikakinya ketika sembahyang dan merambat kebadan sehingga keatas kepalanya, kemudian ditempat sujudnya, manakala akan sujud ular itu akan membuka mulutnya seakan-akan akan menelan kepalanya, maka ia hanya menyingkirkan dengan tangannya sampai dapat bersujud. Dan ketika selesai sembahyang, syaitan lakntullah datang kepadanya dan berkata: “Saya sudah untuk usaha untuk menyesatkan kamu tetapi tidak dapat, dan kini saya akan berkawan sahaj kepadamu.” Jawabnya: ” Sedang pada saat engkau menakuti aku, alhamdulillah saya tidak takut, demikian pula sekarang saya tidak ingin bersahabat dengan engkau.”. Lalu syaitan laknatullah itu berkata: “Apakah tidak tahu bagaimana keadaan keluargamu sepeninggalanmu?” jawabnya: “Saya telah mati sebelum mereka.” “Lalu pakah kamu tidak tanya kepadaku bagaimana aku dapat menyesatkan anak Adam?: Tanya syaitan laknatullah itu. Jawab orang alim itu: “Baiklah, bagaimana kamu menyesatkan anak Adam?” Syaitan laknatullah menjawab: “Dengan tiga macam iaitu:

* Bakhil (kikir)
* Marah
* dan mabuk

Sebab manusia jika bakhil kami bayangkan kepadanya bahawa hartanya sangat sedikit sehingga ia sayang untuk mengeluarkan untuk kewajipan-kewajipannya, dan bila ia pemarah, maka kami permainkan ia sebagai anak kecil mempermainkan bola, meskipun ia dapat menghidupkan orang mati dengan doanya, kami tetap tidak patah harapan untuk dapat menyesatkannya, sebab ia membangun dan kami yang merobohkan dengan satu khalimat sahaja. Demikian pula jika seseorang telah mabuk, maka kami tuntun dengan mudah kepada segala kejahatan sebagaimana kambing dituntun sesuka kami.” Disini syaitan laknatullah telah menyatakan bahawa orang yang marah jatuh ketangan syaitan laknatullah bagaikan bola ditangan anak-anak kecil, kerana itu seseorang harus sabar supaya tidak jatuh dalam tawanan syaitan laknatullah dan tidak sampai gugur dalam perbuatannya.”

Iblis laknatullah datang kepada Nabi Musa a.s. dan berkata: “Engkaulah yang dipilih Allah s.w.t. untuk risalah dan langsung berkata-kata kepadamu, sedang aku seorang makhluk biasa, yang ingin juga bertaubat kepada Tuhan, maka tolonglah aku semoga dapat diterima taubatku.” Maka Nabi Musa a.s. merasa gembira lalu ia wuduk dan sembahyang kemudian ia berdoa: “Ya Tuhan, iblis (laknatullah) seorang makhlukMu, ia akan bertaubat, maka terimalah taubatnya.” Maka turun wahyu kepada Nabi Musa a.s.: “Ya Musa, dia tidak akan bertaubat.” jawab Nabi Musa a.s.: “Ya Tuhan, dia minta taubat.” Maka turun wahyu kepada Nabi Musa a.s.: “Aku telah menerima permintaamu Musa, maka suruhlah ia sujud kepada kubur Adam, maka Aku akan menerima taubatnya.” Nabi Musa a.s.sangat gembira dan menyampaikan suara wahyu itu kepada Iblis laknatullah, tiba-tiba iblis laknatullah itu marah dan sombong serta berkata: “Saya tidak sujud kepadanya dimasa hidupnya, bagaimana akan sujud sesudah matinya?” Lalu iblis laknatullah berkata: “Hai Musa, kerana engkau telah menolong aku kepada Tuhan, maka kini engkau berhak mendapat hadiah daripadaku, maka saya pesan kepadamu tiga macam iaitu:

* Ingatlah kepadaku ketika marah, sebab aku didalam tubuhmu mengikuti saluran darah
* Ingatlah kepadaku ketika menghadapi musuh didalam perang sebab aku datang kepada anak Adam mengingatkan kepadanya keadaan isteri dan anak keluarganya dan hartanya sehingga ia lari kebelakang
* Awas, jangan duduk sendirian dengan wanita yang bukan muhrim sebab aku sebagai utusannya kepadamu dan utusanku kepadanya

Luqman Alhakiem berkata kepada anak lelakinya: “Hai anak, tiga macam yang tidak diketahui kecuali pada tiga macam iaitu:

* Orang yang sabar tidak dikatahui kecuali ketika marah
* Orang yang berani tidak diketahui kecuali ketika perang
* Saudara tidak diketahui kecuali ketika berhajat (berkepentingan)

Seorang alim dari tabi’in dipuji orang, maka ia bertanya kepada orang yang memuji: “Apakah engkau pernah menguji aku ketika marah sehingga engkau ketahui kesabaranku?” Jawab orang itu: “Tidak.” Tanya orang alim itu lagi: “Apakah engkau pernah menguji aku didalam berpergian sehingga engkau mengtahui kebaikan akhlakku?” Jawab orang itu: “Tidak.” “Apakah engkau pernah menguji amanatku sehingga engkau ketahui benar-benar aku seorang yang amanat?” Jawab orang itu: “Tidak.” Berkata orang alim itu: “Celaka engkau, seorang tidak boleh memuji lain orang sebelum diuji dalam tiga macam itu.”

Tiga macam dari akhlak orang syurga dan tidak dapat kecuali pada orang yang baik budi iaitu:

* Memaafkan orang yang zalim kepadamu
* Memberi kepada orang yang bakhil kepadamu
* Membantu orang yang bersalah kepadamu

Nabi Muhammad s.a.w. bertanya kepada Jibril tentang tafsir ayat (Yang berbunyi): “Khudzil afwa wa’mur bil urfi wa’aridh anil jahilin?.” Jawab Jibril: “Aku akan bertanya kepada Allah s.w.t.” dan Jibril berkata: “Ya Muhammad, sesungguhnya Allah s.w.t. menyuruhmu menghubungi kerabat yang memutuskan hubungan padamu dan memberi pada orang yang bakil kepadamu dan memaafkan orang yang aniaya kepadamu.”

Ibn Ajlan dari Said Almagburi dari Abuhurairah r.a. berkata: “Ada seorang memaki Abu Bakar Assisiq r.a. sedang Nabi Muhammad s.a.w. duduk, maka Nabi Muhammad s.a.w. diam. Abu bakar menjawab, maka segera Nabi Muhammad s.a.w. bangun dari temaptnya, maka dikejar oleh Abu Bakar sambil berkata: “Ya Rasulullah, dia maki-maki saya dan engkau diam, ketika saya jawab, tiba-tiba engkau bangun pergi?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Ssesungguhnya Malaikat telah mengembalikan semua makian orang itu kepadanya ketika engkau diam dan ketika engkau menjawab makian, maka pergilah Malaikat itu dan duduk syaitan laknatullah, maka saya tidak suka duduk ditempat duduk bersama syaitan laknatullah.” Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiga macam semuanya hak iaitu:

* Tiada seorang yang dianiaya lalu memaafkannya kerana mengharap keridhoan Allah s.w.t. melainkan pasti ditambah kemuliaan oleh Allah s.w.t.
* Tiada seorang yang membuka jalan meminta-minta kerana ingin bertambah kekayaan melainkan ditambah kekurangannya (kemiskinan) oleh Allah s.w.t.
* Tiada seorang yang memberi sesuatu ikhlas kerana Allah s.w.t. melainkan ditambah banyak oleh Allah s.w.t.

Abul Laits dari ayahnya dengan sanadnya dari Muhammad bin Ka’ab Alqurandhi dari Ibn Abbas r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiap-tiap sesuatu ada kemuliaannya, semulia-mulia majlis yang menghadap khiblat. Dan majlis (duduk-duduk) diantara kamu itu berlaku amanat (segala yang terjadi dimajlis itu sebagai amanat dari yang hadir, tidak boleh dibuka segala yang terjadi dimajlis itu), dan jangan sembahyang dibelakang orang yang sedang tidur dan yang berhadas, dan bunuhlah ular dan kalajengking meskipun kamu sedang sembahyang, dan jangan menutup dinding dengan kain, dan siapa yang melihat surat saudaranya tanpa izin, maka bagaikan melihat api. Dan siapa yang ingin menjadi yang terkuat hendaklah berserah diri kepada Allah s.w.t. dan siapa yang ingin menjadi sekaya-kaya manusia hendaklah lebih percaya kepada jaminan Allah s.w.t. daripada apa yang ditangannya.” Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda lagi: “Sukah saya memberitahu orang yang sejahat-jahat kamu?” Jawab sahabat: “Baiklah, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang yang makan sendiri dan tidak suka membantu, dan selalu kejam dan memukul hamba sahayanya.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda lagi: “Sukakah saya memberitahu yang lebih jahat daripada itu?” Jawab para sahabat: “Baiklah, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: ” Orang yang membenci dan dibenci orang-orang.” Kemudian ditanya lagi: “Sukakah saya memberitahu yang lebih jahat daripada itu?” Jawab para sahabat: “Baiklah, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang yang tidak suka memaafkan kesalahan orang lain dan tidak menerima permintaan maaf atau udzur orang.” Kemudian ditanya lagi: “Sukakah saya memberitahu yang lebih jahat daripada itu?” Jawab para sahabat: “Baiklah, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang yang tidak dapat diharap kebaikannya dan tidak aman dari gangguannya.” Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Nabi Isa a.s. bersabda: “Hai Bani Israil, kamu jangan membicarakan hikmat pada orang yang bodoh, bererti kamu telah aniaya pada hikmat itu, dan jangan kamu sembunyikan dari ahlinya, maka bererti kamu aniaya pada hikmat itu dan pada orang-orang yang berhak itu. Dan jangan kamu membalas orang jahat dengan kejahatan, maka hilang kebaikanmu disisi Tuhanmu. Hai Bani Israil, semua urusan itu hanya terbahagi tiga iaitu:

* Urusan yang nyata baiknya maka ikutilah
* Urusan yang nyata sesatnya maka tinggalkanlah
* Urusan yang masih ragu kembalilah kepada Allah s.w.t. dan Rasulullah (Al-Quran dan sunnaturasul)

Seorang cendikiawan berkata: “Zuhud (tidak rakus) didunia ini kerana empat iaitu:

* Percaya benar pada janji Allah s.w.t. didunia dan diakhirat
* Harus menganggap puji dan makian orang-orang itu sama sahaja (tidak merasa besar kerana dipuji dan tidak merasa rendah kerana dihina orang)
* Ikhlas dalam amal perbuatanmu
* Memaafkan orang yang aniaya padanya dan tidak marah-marah kepada budak sahayanya dan menjadi tenang sabar

Abu Darda r.a. berkata: “Seorang berkata kepadanya: “Ajarkan kepadaku beberapa kalimah yang berguna bagiku.” Abu Darda berkata: “Saya berwasiat kepadamu beberapa kalimah, siapa yang mengamalkan maka ia mendapat darjat yang tinggi sebagai pahalanya iaitu:

* Jangan makan kecuali yang halal
* Anggaplah dirimu dari golongan yang mati
* Serahkan dirimu kepada Allah s.w.t, maka siapa yang maki atau mengganggu kepadamu maka katakan: “Kehormatanku telah aku serahkan kepada Allah s.w.t.”
* Jika engkau berbuat kesalahan atau dosa maka segera minta ampun kepada Allah s.w.t.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. patah giginya dalam perang Uhud, maka para sahabat berkata kepadanya: “Ya Rasulullah, andaikan engkau berdoa kepada Allah s.w.t. terhadap orang yang telah berbuat kepadamu sedemikian itu.” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Sesungguhnya aku tidak diutus untuk mengutuk tetapi aku diutus untuk berdakwah dan rahmat, ya Allah, berilah hidayat kepada kaumku maka mereka benar-benar belum mengetahui.”

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Siapa yang menahan dari kehormatan kaum muslimin, maka Allah s.w.t. memaafkan kesalahan-kesalahannya pada hari kiamat, dan siapa yang menahan marahnya, maka Allah s.w.t. akan menghindarkan dari murkaNya pada hari kiamat.”

Mujahid berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. berjalan melalui kaum yang sedang mengangkat batu dan melihat siapakah yang lebih kuat diantara mereka, maka Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: “Apakah batu itu?” Jawab mereka: “Ini batu kekerasan.” Maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sukakah saya beritahu kepada kamu yang lebih keras daripada itu?” Jawab mereka: “Ya, ya Rasulullah.” Maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang yang bentrol dengan saudaranya sehingga mendongkol, kemudian dapat mengalahkan syaitan laknatullah dan datang kepada saudaranya itu lalu mengajak damai dan baik kepadanya.” Dilain riwayat pula dikatakan: “Nabi Muhammad s.a.w. melihat kaum melatih kekuatan itu dengan mengangkat batu, maka Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: “Apakah kamu mengukur kekuatan dengan mengangkat batu? Sukakah saya beritahu kepadamu yang lebuh kuat dari kamu?” Jawab mereka: “Ya, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Iaitu orang yang penuh marah lalu menahan marahnya dan sabar.”

Yahya bin Mu’adz berkata: “Siapa yang mendoakan orang yang menganiaya kepadanya, maka ia telah menyusahkan Nabi Muhammad s.a.w ditengah-tengah para Nabi-nabi yang lain, dan menyenangkan orang mal’un iaitu iblis laknatullah ditengah-tengah syaitan laknatullah dan orang-orang kafir. Dan siapa yang memaafkan orang yang zakim, maka ia telah menyedihkan kepada iblis laknatullah ditengah-tengah orang kafir dan syaitan laknatullah dan menyenangkan Nabi Muhammad s.a.w. ditengah-tengah para Nabi dan orang-orang solihin.”

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Pada hari kiamat akan ada seruan: “Dimanakah orang-orang yang pahala mereka dijamin oleh Allah s.w.t, maka bangkitlah orang yang telah memaafkan pada manusia lalu masuk syurga.”

Al-Ahnaf bin Qays ditanya: “Apajah kemanusiaan itu? Jawabnya:

* Merendahkan diri didalam kekuasaan kerajaan
* Memaafkan ketika berkuasa dan
* Memberi tanpa menyebut-nyebut

Athiyah berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Orang mukmin itu lunak-lunak, baik-baik bagaikan unta yang terkendali hidungnya, jika dituntun menurut dan jika dihentikan dibukit juga berhenti.”

Abul Laits berkata: “Pergunakanlah sabar ketika merah dan awaslah kamu dari keburuan ketika marah kerana keburuan dalam marah itu mengakibatkan tiga macam iaitu:

* Menyesal diri
* Tercela oleh orang-orang
* Siksa dari Allah s.w.t.

Sebab sabar itu memang pahit pada mulanya tetapi manis pada akhirnya, sebagaimana kata pujangga: “Alhilmu awwalahu murrun madzaqatuhu, laakin akhiruhu ahla minal asali ashshabru kashshabiri murrun fi madzaqatihi laakin awaqibuhu ahla minal asali.” (Yang bermaksud): “Sabar itu pada mulanya pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu. Sabar itu bagaikan jadam pahit rasanya tetapi akibatnya lebih manis dari madu.”

Rekayasa Tuduhan Terhadap Ulama Sufi

Banyak kalangan yang terus menerus menuduh kaum Sufi terutama para Ulamanya, melalui berbagai rekayasa dan kalimat-kalimat, wacana yang disandarkan kepada para Ulama tersebut, sehingga mengesankan betapa para Ulama Sufi telah sesat. Rekayasa yang penuh dengan kezaliman ini telah disebarkan oleh musuh Islam, sekaligus mereka yang anti tasawuf.

Di bawah ini ilustrasi yang cukup otentik atas rekayasa tersebut:
Dalam Thobaqotnya, Ibul Farra’ mengutip dari Abu Bakr al-Maruzy, bahwa mereka (para perekayasa) telah banyak meriwayatkan berbagai masalah, kemudian masalah-masalah itu diidentifikasikan sebagai pandangan Ahmad bin Hambal. Dalam masalah ini mereka menuturkan:
“Dua orang yang saleh telah diuji melalui lingkungan sahabatnya yang buruk. Ja’far as-Shodiq dan Ahmad bin Hambal. Adapun Ja’far ash-Shodiq, karena banyak wacana yang disandarkan padanya, yang telah dikodifikasi dalam fiqih Syia’ah Imamiyah, bahwa pandangan itu adalah ucapan Ja’far ash-Shodiq, padahal beliau sama sekali tidak pernah mengatakannya. Sedangkan terhadap Imam Ahmad bin Hambal, sejumlah Ulama Hambali mengidentikkan pandangan mereka sebagai pandangan Imam Ahmad padahal sama sekali bukan.”

Suatu hari Imam Al-Faqih Ibnu Hajar al-Haitsamy ra, ditanya mengenai akidah pengikut mazhab Hambal, “Apakah ada yang tesembunyi dibalik kemuliaan ilmu anda, apakah akidah kaum hambali itu seperti akidah Imam Ahmad bin Hambal?”
Ibnu Hajar menjawab, “Akidah imam Sunnah Ahmad bin Hambal ra, — dan semoga Allah meridloi dan menjadikan syurga ma’rifat sebagai tempatnya yang luhur, dan semoga berkahnya melimpah kepada kita, semoga Allah menempatkan di syurga firdausnya yang tinggi di SisiNya – adalah akidah yang relevan dengan Ahlussunnah wal-jamaah, terutama dalam penyucian Allah Ta’ala, — jauh dari apa yang dikatakan oleh kaum zalim, dan para penentangnya—jauh dari arah dan fisik dan sebagainya, bahkan jauh dari segala sifat yang kurang dari keparipurnaan absolut. Apa yang dipopulerkan secara dusta dan bodoh yang dikaitkan pada Imam Ahmad yang agung ini, bahwa Allah itu berarah dan dan berfisik adalah kedustaan dan kebohongan. Tentu bagi orang yang mengaitkan pada Imam Ahmad harus dilaknat. (Lihat al-Fatawa al-Haditsiyah, Ibnu Hajar al-Makky hal. 148)

Rekayasa juga dialamatkan pada Imam Ali bin Abi Thalib Karromallahu Wajhah, dimana Kitab Nahjul Balaghah dan yang lain yang selama ini tersebar, katanya dari ucapan Imam Ali. Adz -Dzahaby menyebutkan dalam biografi Ali bin al-Husain asy-Sayrif al-Murtadlo, sesungguhya: (adalah beliau yang meragukan kitab Nahjul Balaghoh dan orang yang menelaahnya harus dipastikan atas kebohongannya bahwa hal itu dari Amirul Mukminn Ali bin Abi Thalib. Di dalamnya menjadi sebab kontradiksi dan permusuhan terhadap dua pemuka sahabat Nabi Abu Bakr dan Umar bin Khoththob, ra, dan di dalam kitab itu penuh dengan antagonisma dan wacana dimana bagi orang yang sangat mengerti nafas sahabat Quraisy dan sahabat lainnya, pasti akan mengatakan bahwa kitab itu lebih banyak batilnya.” (Mizanul I’tidal, adz-Dzahaby, juz 3, hal 124)

Ulama Sufi yang dituding melalui rekayasa, antara lain Imam Asy-Sya’roni, khususnya dalam Thobaqotul Kubro, dan hal demikian juga diungkapkan dalam Lathoful Minan wal-Akhlaq, “Diantara anugerah Allah kepada diri saya adalah kesabaran saya atas cobaan orang-orang dengki pada saya, lalu mereka membuat rekayasa seakan-akan saya berkata suatu perkara yang bertentangan dengan syariat. Lalu mereka berfatwa, dengan kedustaan dan kebohongan sampai saya harus dilaporkan ke raja.
Perlu anda ketahui saudaraku, cobaan pertama yang menimpaku ketika di Mesir adalah rekayasa kebohogan itu.

Sejarawan besar Abdul Hayy bin Imad al-Hambaly dalam kitabnya Syadzarotuz Dzahab, menghenai biografi asy-Sya’rony ini, “Dia adalah Ulama yang mendapat kedengkian dari berbagai kalangan, lalu sejumlah wacana dikait-kaitkan pada beliau dengan dusta, seakan-akan beliau menentang syariat, bahkan dengan akidah yang menyimpang, serta masalah yang kontra dengan Ijma’ Ulama. Sampai akhirnya asy-Sya’roni dicaci maki, dihina, dan dilempari berbagai tuduhan. Namun Allah justru menghina mereka itu semua, dan terbukti bahwa Asy-Sya’rony bebas dari tuduhan, karena asy-Sya’roni sangat ketat pada Sunnah, wara’, bahkan ia sangat sederhana termasuk pakaiannya, senantiasa prihatin, dan waktunya dihabiskan untuk ibadah, menulis kitab, suluk dan meraih manfaat. Siang malam zawiyah sufiya sangat ramai, dan setiap malam jum’at senantiasa menghidupkam malam itu dengan penuh sholawat Nabi saw, dan terus menerus dilakukan, demi mengagungkan junjungan jiwa, hingga akhir hayatnya beliau.”

Imam al-Ghazaly, telah dilempar rekayasa oleh lawan dan musuhnya dengan berbagai naskah yang disandarkan sebagai karyanya. Al-Qodly ‘Iyadh akhirnya membakar naskah tersebut. Asy-Sya’rani mengatakan: “Hal yang direkayasakan pada Imam Hujjatul Islam al-Ghazaly dan disebarluaskan adalah ungkapan mereka bahwa al-Ghazali berkata: (Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai hamba-hamba, manakala hamba-hamba ini meminta kepada Allah agar kiamat tidak terjadi, Allah tidak bakal menciptakan kiamat. Sebaliknya Allah juga punya hamba-hamba jika para hamba ini memohon agar kiamat terjadi saat ini, Allah akan mengkiamatkannya.”

Banyak sejumlah Kitab yang dikait-kaitkan oleh nama besar Al-Ghazaly yang ditulis oleh kaum antagonis. Diantaranya sejumlah kitab yang kontra terhadap Ahli Sunnah wal-jamaah, lalu kitab itu ditelaah oleh Syeikh Badruddin Ibnu Jama’ah, kemudian beliau berkomentar, “Demi Allah, ini dusta, dan sangat keterlaluan mengaitkan kitab ini pada Hujjatul Islam.”
Syeikhul Akbar, Muhyiddin Ibu Araby sebagaimana disbeut Asy-Sya’rany, pernah dituding melalui rekayasa musuh-musuh Islam. Padahal Ibnu Araby sangat tegas berpijak pada Al-Qur’an dan Sunnah, hingga beliau berkata, “Setiap perkara yang terlempar dari timbangan syariat sedikit saja dari tangannya, ia bakal hancur…” sampai kata-katanya, “Dan inilah akidah Jama’ah sampai kiamat…”

Sedangkan sejumlah wacana yang tidak bisa difahami khayalak, semata-sama karena tingginya tahapannya. Sementara seluruh kata-katanya yang kontra terhadap syariat, dan Jumhur, sesungguhnya merupakan kata-kata rekayasa yang diidentikkan sebagai kata-katanya oleh lawan-lawannya, sebagaimana dikabarkan padaku oleh Syeikh Abnu Thohir al-Maghriby yang tinggal di Makkah al-Mukarromah. Kemudian beliau mengeluarkan manuskrip Al-Futuhat al-Makkiyyah tulisan Syeikh di kota Quniah, untuk dibandingkan dengan naskah yang pernah saya kaji. Justru saya tidak melihat sama sekali hal-hal yang semula saya harus mauquf (diam) dan saya buang ketika saya membuat ikhtisar (ringkasan) al-Futuhat. Lalu aku jadi faham, bahwa mereka orang-orang dengki itu telah merekayasa tudingan keji terhadap syeikh dengan memasukkannya dalam kitabnya, seperti yang dilakukan terhadap diri saya. Itulah peristiwa yang pernah saya saksikan sendiri dalam zaman saya. Semoga Allah mengampuni kita dan mereka semua.”

Diantara kata-kata yang diidentikkan pada Ibnu Araby dari musuh-musuhnya yang menyelipkannya dalam Al-Futuhat adalah bahwa beliau berkata, “Ahli neraka itu sangat menikmati masuk neraka itu sendiri, dan manakala mereka keluar dari neraka, justru mereka merasa tersiksa.”
Asy-Sya’rani berkomentar, “Jika ditemukan hal seperti itu dalam salah satu kitabnya, maka jelas ucapan itu adalah rekayasa musuh. Sebab berkali-kali saya telaah kitab Al-Futuhatul Makkiyyah secara keseluruhan, semuanya menegaskan bahwa Ibnu Araby menegaskan adanya siksa pada ahli neraka.”

Karena itu menelaah karyanya harus hati-hati, sebab banyak yang diselipi kata-kata musuh untuk menghancurkan Ibnu Araby dalam kitab-kitabnya, khususnya kitab Futuhat dan Fushus.
Lebih-lebih kalau kita baca karya para orientalis yang menganalisa Ibnu Araby dan karya-karyanya, mereka lebih banyak salah faham atas wacananya. Karena itu untuk menelaah kitabnya, usahakan dari karya orisinal yang berbahasa Arab.

Diantara rekayasa yang pernah dilemparkan, antara lain tehadap Imam Syeikh Ibrahim ad-Dasuqy. Ra, melalui kata-katanya, “Tuhanku telah mengizinkan diriku untuk berkata dan aku mengatakan, Akulah Allah. Maka Allah berkata kepadaku, “Katakan: Akulah Allah dan aku tak peduli…”
Ini sungguh kata-kata yang diselipkan oleh musuh Sufi besar ini, seakan-akan kata-kata beilau.

Rabiah Adawiyah, wali perempuan yang begitu hebat juga sempat dituding melalui rekayasa kata-kata yang diidentifikasikan padanya, tentang Ka’bah, “Inilah Berhala yang disembah di muka bumi”.

Bahkan Ibnu Taymiyah malah menolak jika kata-kata itu dari Rabiah Adawiyah. “Apa yang disebut dan dikaitkan pada Rabiah mengenai ucapannya, Ini adalah Berhala yang disembah di muka bumi, adalah ungkapan dusta dari para pendengkinya terhadap wanita yang taqwa ini. Seandainya saja ada orang bicara seperti itu pasti dia kafir, jika bertobat diterima, jika tidak, bisa dihukum bunuh. Jelas kalimat yang dikaitkan padanya adalah kebohongan. sebab Baitullah tidak pernah disembah umat Islam, tetapi ummat menyembah Tuhannya Baitullah melalui Thawaf dan sholat kepadaNya.”

Kita semua bisa menyimpulkan kenapa selalu ada rekayasa pendustaan terhadap Islam melalui wacana yang dikaitkan tokoh-tokoh Islam, apalagi berhubungan dengan dunia sufi yang merupakan Ruh Islam?

Karena jika Ruhnya dimatikan, bangunan Islam akan roboh. Mereka musuh-musuh Islam itu hendak mematikan cahaya Allah sebagaimana disebut oleh Allah, “Mereka hendak mematikan Nur Allah melalui ucapan mereka, padahal Allah justru menyempurnakan cahayaNya, walaupun hal itu dibenci oleh orang-orang kafir.”

Jalaluddin Rumi – Penyair dan tokoh sufi terbesar dari Persia

Ia berkata, “Siapa itu berada di pintu?”
Aku berkata, “Hamba sahaya Paduka.”
Ia berkata, “Kenapa kau ke mari?”
Aku berkata, “Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti.”
Ia berkata, “Berapa lama kau bisa bertahan?”
Aku berkata, “Sampai ada panggilan.”
Aku pun menyatakan cinta, aku mengambil sumpah
Bahwa demi cinta aku telah kehilangan kekuasaan.
Ia berkata, “Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan.”
Aku berkata, “Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku.”
Ia berkata, “Saksi tidak sah, matamu juling.”
Aku berkata, “Karena wibawa keadilanmu mataku terbebas dari dosa.”
Syair religius di atas adalah cuplikan dari salah satu puisi karya penyair sufi terbesar dari Persia, Jalaluddin Rumi. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Dua hal itulah –kedalaman makna dan keindahan bahasa– yang menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum maupun sesudahnya.

œ

Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu tarekat Maulawiah –sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman pada sekitar tahun l648.

Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewa-dewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Pada zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu.

Bagi kelompok yang mengagul-agulkan akal, kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, cepat-cepat mereka ingkari dan tidak diakui.

Padahal, menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.

Rumi mengatakan, “Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu’tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya.”

Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. “Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?” tegas Rumi.

œ

PENGARUH TABRIZ. Fariduddin Attar, seorang tokoh sufi juga, ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak bakal menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin itu tidak meleset.

Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30 September 1207 Rumi menyandang nama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi. Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).

Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia digelari Sulthanul Ulama (raja ulama). Namun rupanya gelar itu menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan merekapun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk keluarganya. Ketika itu Rumi baru beruisa lima tahun.

Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.

Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.

Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.

Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin alias Syamsi Tabriz.

Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing –yakni Syamsi Tabriz– ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.

Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”

Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya.

Bak remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Rumi dirundung duka. Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.

Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.

Demi mengabulkan permintaan Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.

Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.

Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).

Bersama Syekh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

œ

WAFAT. Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.

Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo’akan, “Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit.”

Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya.

œ

Aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.

Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.

Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;

“Kepada Nya, kita semua akan kembali”

Higher Self

Dalam bukunya “De grondsla-gen van Uw Succes”, WJ Brown menulis, “Kehidupan batin manusia ibarat gunung es: 1/3 bagian nongol ke permukaan laut, sedang 2/3 lainnya tak kelihatan, tersembunyi di bawah permukaan air”.

Manusia selalu berfikir. Ia senantiasa berusaha agar setiap hal yang ia lakukan diurus secara sadar, sepenuhnya. Namun tak semua kehendak mudah dicapai. Pada waktu-waktu tertentu, manusia sering dipengaruhi oleh sesuatu yang “gaib”, bawah sadar.

Misalnya? Kita sering tertarik pada seseorang. Tapi kita tak bisa menerangkan kenapa, hal apa yang menyebabkan timbulnya perasaan semacam itu. Atau suatu ketika, tiba-tiba muncul suatu perasaan tidak enak, gelisah, hingga jantung pun berdebar-debar. Kita tak mampu menjelaskan, kenapa demikian. Tahu-tahu beberapa saat, atau beberapa hari setelah itu, kejadian tak diinginkan betul-betul menimpa. Dari kondisi semacam itu terbukti, kekuatan bawah sadar dalam diri kita sedang bekerja.

Batin Manusia

Para ahli telah sampai pada kesimpulan bahwa dalam batin manusia terpendam kekuatan bawah sadar. Sewaktu-waktu ia dapat muncul ke permukaan dan mempengaruhi rasa-sadar. Kenapa? Karena ada hubungan yang sangat erat diantara keduanya. Pusatnya terletak di otak. Pada bagian atas sumsum belakang terdapat sambungan yang langsung saling berkaitan dengan otak. “Jembatan” sumsum itulah yang menggetarkan “sinyal-sinyal” dari bawah sadar ke otak. Dari sini ia langsung mempengaruhi. Satu hal perlu dicatat, bahwa kekuatan bawah sadar menurut Mr. Brown tadi adalah 2 kali lebih dahsyat ketimbang kekuatan sadar!

Perbedaannya apa? Pikiran sadar hanya bekerja selama manusia tidak tidur. Paling banter 16 jam sehari. Masa dinasnya terbatas. Dalam masa sesingkat itu, ia bertanggung jawab mengambil keputusan dengan segera mengenai soal-soal “kehidupan” dan lain sebagainya. Ia juga mengontrol situasi yang dihadapkan padanya. Kesan-kesan ia serap dengan cepat, namun secepat itu pula ia lupakan kembali.

Sedangkan “pikiran – bawah sadar” tidak semalas itu. Ia bekerja terus-menerus selama 24 jam sehari. Tiada waktu istirahat sedetik pun.

Ia akan selalu olah diri, melumat segala masalah. Malahan banyak pekerjaan yang tak terselesaikan oleh rekannya (pikiran sadar), ia borong dengan tuntas, memuaskan. Dan ini telah dilakukannya sejak detik pertama kelahiran kita!

Banyak lagi kelebihannya, diantaranya yang paling penting ialah “kejeniusannya”. Ia tak pernah pikun. Semua situasi, emosi, dan sensasi yang kita temui, selalu diingatnya. Tambahan lagi, kapasitas memorinya pun sukar diperhitungkan.

Makanya, apabila kita mampu mengendalikan kekuatan yang tersembunyi itu, kekuatan otak kita akan bertambah secara menakjubkan sekali.

Hampir-hampir kita sukar mempercayainya. Kita sering mengalami problema yang sukar sekali dipecahkan. Kendati otak telah diperas berjam-jam lamanya. Esok harinya, setelah tidur dimalam hari, tiba-tiba muncul saja penyelesaiannya. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya.

Timbul pertanyaan, mengapa banyak sekali masalah yang sering dapat terselesaikan sewaktu kita tidur nyenyak? Sebabnya ternyata sederhana sekali. Problema yang sedang kita hadapi itu terlalu sulit buat “pikiran sadar”. Akhirnya ia tertimbun dalam “bawah sadar “. Malam harinya, tatkala sedang tertidur pulas, bawah sadar bekerja keras. Akhirnya ia berhasil memecahkannya.

Dalam ilmu kedokteran, peristiwa ini disebut “endopsychic process”. Diduga ia sangat vital sekali dalam hidup kita sehari-hari. Hidup tanpa dia, semua tampak Mustahil. Sampai saat ini para ahli yakin, bahwa dengan sedikit latihan, setiap orang mampu meningkatkan kekuatan terpendam itu.

Genie dalam Diri Anda

Ada sebagian orang mempersonifikasikan pikiran bawah sadar itu dengan Genie. Genie ini tersohor dalam dongeng Lampu Wasiat Aladin. Ia patuh sekali. Apapun perintah tuannya, akan ia kerjakan dengan sempurna. Tak peduli baik atau buruk Baginya semua titah itu baik dan benar.
Kemampuan kritisnya lemah. Tapi kekuatannya luar biasa.

Persis kayak komputer. Ia menampung semua data yang diprogramkan padanya tanpa membantah. Lalu seluruh data itu ia susun dalam arsip yang rapi. Semakin banyak data, semakin pintar dan makin beragam pula tugas yang sanggup ia selesaikan. Penimbunan itu terus berantai. Arsipnya membengkak, begitu seterusnya.

Pianis yang mahir menekan tuts-tuts dengan otomatis, tanpa berfikir lagi, penggesek biola, penari, peniup saxophone juga tanpa berfikir lagi bermain dengan lincah sekali. Padahal dulu dengan susah payah, penuh konsentrasi, mereka berlatih berbulan-bulan lamanya. Sebetulnya, saat itu ia sedang memasukkan informasi kedalam memori “Genie” itu.

Makin sering ia berlatih, makin berkembang data yang masuk, makin mahirlah dia. Terwujudlah suatu kebiasaan baru yang naluriah sifatnya. Otomatis!

Begitulah semua kebiasaan manusia tercipta. Yang baik atau pun yang buruk. Otomatis, sifat perangai kita pun adalah hasil proses ini.

Kebiasaan merokok, suka pacaran, gemar minum tuak, berjudi morfinis, atau apapun namanya semua akibat memori “Genie” itu diisi kebiasaan yang terus menerus. Berulang dan diulang. Sehingga pada akhirnya Genie itu “yakin” dan kemudian ia mahir, tagih, nyandu. Seperti itu pula halnya kebiasaan-kebiasaan baik. Suka menolong, dermawan, murah senyum, penampilan yang selalu rapi, optimis dan banyak lagi.

Tidak hanya sampai disana. Kita pun mampu membentuk kebiasaan baru, keterampilan baru, perangai baru, akhlak baru. “Habit is the second nature,” tutur orang Inggris. Dan itu pun kita bisa pilih: mau yang baik, mulia atau pun yang buruk. Semua tergantung kita. Dengan membentuk kebiasaan-kebiasaan positif baik dan terpuji serta sedikit demi sedikit meninggalkan kebiasaan jelek, otomatis terbentuklah tabiat baru. Semakin sering, semakin baik.

Terapi Mental

Agaknya masih banyak orang yang sedang penyakit mental. Pikiran bawah sadarnya banyak kena “racun”. Malangnya, dirinya sendiri yang meracuni. Tanpa pernah ia sadari. Itulah mereka yang suka keluh kesah, senantiasa berputus asa, merasa tak sanggup melakukan sesuatu sebelum dicoba, dsbnya.

Dari mulut mereka keluar “mantera-mantera”, tanpa sama sekali menyadarinya sebagai “mantera”. Kita sering mungkin (tanpa sadar) mengucapkan kata-kata “mantera” itu, seperti, “Ah malas! Nggak mungkin berhasil! Takdir saya memang begini, mau apa lagi!” Itulah mantera-mantera yang kemudian disimpan di bawah sadar kita, lalu “Genie” itu mengganggapnya sebagai “perintah” kita. Jadilah diri kita persis seperti yang kita “mantera” itu.

Itulah sebabnya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Jika engkau beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkata-katalah (hanya) yang baik saja, (kalau tidak) lebih baik diam.”

Setiap ucapan yang keluar dari mulut, setiap tindakan yang kita kerjakan tak pernah dilupakan oleh sang bawah sadar. Apapun bentuknya.

Kata-kata yang kita ucapkan akan terus direkam dalam memori Genie (bawah sadar kita itu). Ya, tanpa sengaja kita telah memberi input “negatif” pada pikiran bawah sadar kita.

Kalau ini sering dilakukan, itu berarti kita berusaha meyakinkan “bawah sadar” kita. Genie itu akhirnya menganggukan kepalanya jua.

Kalau begitu, apakah pikiran bawah sadar itu berbahaya? Hingga patut pula dibunuh? Tidak usah. Janganlah berperang dengannya. Cobalah pandai-pandai berdiplomasi, bercengkrama secara santai, sehingga perlahan-lahan tapi pasti, terwujudlah suatu hasil yang positif. Ia akan cenderung menyedot hal – hal yang tak diinginkan. Ini jelas tidak menguntungkan.

Akhirnya patut disadari, Genie itu bukan makhluk lain. Ia adalah kemampuan besar yang misterius dari pikiran kita sendiri. Selama ini ia telah banyak membantu kita. Sejak kita lahir, ia senantiasa menunggu titah kita untuk ia kerjakan dengan patuh, demi kesuksesan kita. Ia bukan milik orang lain. Ini adalah milik kita. Kita lah tuannya, sang Aladinnya!

Diam (menahan diri) – Belajar dari Ala’uddin al-Bukhari al-’Aththar qs

“Diam (menahan diri) adalah keadaan terbaik, kecuali dalam tiga hal:
Kalian tidak boleh berdiam diri dalam menghadapi gosip buruk yang terbersit dalam hatimu;
Kalian tidak boleh berdiam diri dalam mengarahkan dirimu untuk mengingat Sang Pencipta saat terjaga;
Dan kalian tidak boleh berdiam diri ketika pandangan spiritual dalam hatimu memerintahkan untuk bicara.”
- Ala’uddin al-Bukhari al-’Aththar qs -

Ala’uddin al-’Aththar lahir sebelum pertengahan abad ke-14 Masehi. Beliau meninggalkan semua warisan ayahnya kepada kedua saudaranya dan mengabdikan dirinya untuk belajar di sekolah-sekolah di Bukhara. Beliau menjadi ahli di setiap bidang yang dipelajarinya, khususnya dalam bidang Sufisme dan Islam.

Beliau melamar putri Syah Naqsyband qs, memintanya untuk menikah dengannya. Jawaban Syah Naqsyband qs baru muncul di suatu hari, lewat tengah malam, ketika beliau terbangun dari tidurnya di Qasr al-’Arifan. Dengan segera beliau pergi ke sekolah di Bukhara di mana Ala’uddin qs tinggal. Di sana beliau melihat semua orang tertidur, kecuali Ala’uddin qs, yang tetap terjaga dengan membaca al-Qur’an diterangi cahaya dari sebuah lampu minyak yang kecil.

Beliau mendatanginya dari belakang dan menepuk pundaknya tetapi Ala’uddin qs tidak menoleh. Beliau menepuknya lebih keras, tetapi tetap diam. Melalui pandangan spiritualnya, Syah Naqsyband qs kemudian mengerti bahwa Ala’uddin qs tidak berada di sana tetapi sedang berada dalam Kehadirat Ilahi. Beliau lalu memanggilnya secara spiritual dan dengan segera Ala’uddin qs menoleh dan berkata,”Oh Guru.” Syah Naqsyband qs berkata, “Aku bermimpi bahwa Rasulullah (saw) telah menerima lamaranmu kepada putriku. Dengan alasan itulah, Aku datang sendiri ke sini, di tengah malam, untuk menyampaikan kabar gembira ini.”

Ala’uddin qs berkata, “Guru, Aku tidak punya apa-apa yang bisa dibelanjakan untuk putrimu maupun untuk diriku sendiri, karena Aku sangat miskin, seluruh warisan ayahku telah kuberikan kepada saudara-saudaraku.” Syah Naqsyband qs menjawab, “Anakku, apa pun yang telah dituliskan Allah ta’ala kepadamu di Hari Perjanjian akan tetap menjadi milikmu. Jangan khawatir, Allah ta’ala akan menyediakannya.”

Ala’uddin pernah bercerita, “Suatu hari seorang Guru bertanya kepadaku, “Bagaimana hatimu?” Aku berkata, “Aku tidak tahu bagaimana keadaan hatiku.” Guru itu berkata, “Aku tahu hatiku, dia bagaikan bulan di sepertiga malam.”

Aku lalu menceritakan hal ini kepada Guruku Syah Naqsyband qs dan beliau berkata, “Dia berkata berdasarkan keadaan hatinya.” Ketika beliau mengatakan hal itu, beliau meletakkan kakinya di atas kakiku dan menekannya. Tiba-tiba Aku meninggalkan tubuhku dan melihat bahwa segala yang ada di dunia ini dan seluruh alam semesta berada dalam hatiku. Ketika aku terjaga kembali dari “keadaan spiritual” itu, beliau masih berdiri di atas kakiku, dan berkata, “Jika hati seperti itu, maka tak seorang pun yang dapat melukiskannya. Sekarang bagaimana menurutmu, Ala’uddin, hadits qudsi yang berbunyi, ‘Bumi dan langit tidak dapat memuat diriku, tetapi AKU berada dalam hati orang-orang yang benar-benar beriman.’ Ini adalah salah satu rahasia yang engkau harus pahami.”

Selanjutnya Syah Naqsyband qs bertanggungjawab penuh atas perkembangan spiritual dirinya. Beliau mengangkatnya dari satu tingkat “kesadaran spiritual” ke tingkat lainnya dan mempersiapkannya untuk hadir dalam Kehadirat Ilahi dan untuk mendaki menara Pengetahuan Spiritual yang agung dan meninggalkan segala macam kebodohan spiritual untuk mencapai tingkat Realitas, Hakikat.

Beliau dilatih sedemikian sehingga memiliki kekhususan di antara sekian banyak murid Baha’uddin Naqsyband qs. Selama hidupnya Syah Naqsyband qs memerintahkannya untuk memberi pencerahan kepada para muridnya yang lain. Syaikh Ala’uddin qs sangat disayang dan diistimewakan oleh Syah Naqsyband qs karena kejujuran, kesalehan, kezuhudan, ketakwaan, dan kerendah-hatiannya, sebagaimana Nabi Yusuf ‘alayhi as-sallam yang sangat disayang oleh ayahandanya, Nabi Ya’qub ‘alayhi as-sallam.

Dari mutiara-mutiara nasehat beliau, Syaikh Ala’uddin qs, antara lain, berpesan:

Perihal Perilaku yang Benar:
“Kalian harus berada pada tingkat yang sesuai dengan orang-orang di sekitarmu dan menyembunyikan “keadaan spiritualmu” yang sebenarnya dari mereka, karena Rasulullah (saw) bersabda, ‘Aku telah diperintahkan untuk berbicara kepada orang-orang sesuai dengan apa yang bisa dimengerti, ditampung oleh hati mereka.’ “

“Waspadalah, jangan sampai menyakiti hati kaum Sufi sejati. Jika engkau menginginkan persahabatan mereka, pertama kalian harus belajar bagaimana bertingkah laku di hadapan mereka. Kalau tidak kalian akan menyakiti diri sendiri, karena jalan mereka adalah jalan yang paling halus, lembut, dan santun. Disebutkan bahwa, ‘Tidak ada tempat di Jalan Kami bagi orang-orang yang tidak memiliki adab (etika) yang baik.’ “

“Jika engkau mengira bahwa engkau telah berperilaku baik berarti engkau salah, karena memandang dirimu baik adalah suatu kesombongan.”

Perihal Dzikir Terbaik:
“Jalan untuk berkontemplasi (merenung, tafakur) dan meditasi lebih utama dan lebih sempurna daripada berdzikir dengan kalimat “Laa ilaaha illallah”. Para pencari, melalui kontemplasi dan meditasi (muraqabat), dapat meraih pengetahuan internal (batin) dan mampu memasuki Kerajaan Surgawi (dalam kalbu). Yang dengan itu, dia akan diberi kemampuan, kekuasaan untuk “melihat” keadaan batin, realitas spiritual makhluk-makhluk Allah dan mengetahui apa yang terlintas dalam hati mereka, bahkan gosip atau bisikan terkecil pun dapat diketahuinya. Dan dengan itu pula, dia akan diberi kekuasaan, kemampuan untuk membuka hati, mencerahkan kalbu mereka, baik disadari maupun tidak disadari oleh mereka, dengan cahaya Hakikat dari Hakikat Ke-Esa-an Ilahi.”

Di suatu hari Sabtu, tanggal 2 Rajab 802 H, Syaikh Ala’uddin qs berkata, “Aku akan meninggalkan kalian menuju kehidupan yang lain dan tak seorang pun yang dapat menghentikan Aku.” Beliau wafat pada hari Rabu, tanggal 20 Rajab 802 H/26 Maret 1400 Masehi dan dimakamkan di Jaganyan, salah satu kota di Bukhara, sekarang terletak di wilayah negara Uzbekistan, Asia Tengah.

Beliau meneruskan rahasia ilmunya kepada satu di antara sekian banyak khalifahnya (deputinya), yaitu Syaikh Ya’qub al-Jarkhi qs.

Semoga Allah SWT menjaga rahasia ilmu Ala’uddin al-Bukhari al-’Aththar qs. dan memberinya kedamaian.

Wali Allah tersembunyi

Ingredients:
“Wali-Wali Allah tidak berkata: ‘ikuti saya’ tapi berkata: ‘Ikuti Allah dan Rasul-Nya!’ Siapa yang terbuka hatinya mengikuti mereka.
Wali-Wali Allah tersembunyi, bukan fisiknya tapi Maqom Spiritualnya
[tersembunyi] dari orang-orang yang buta matahatinya.
Banyak yang ingin mendekati Allah tapi menjauhi para wali-Nya.
Pemuka para wali adalah para Nabi dan Sahabat Rasulullah Saw.
Sultan para wali adalah Nabiyur-Rahmah Muhammad Saw.
yang melalui beliau mengalir ilmu-ilmu Hakikat Allah
dari “hati spiritual” ke “hati spiritual” para hamba-Nya yang mukhlisin.”
- Dikutip dari kata-kata mutiara Wiyoso Hadi -

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah ra, bahwa Rasulullah SAW (ShollaLlahu ‘Alayhi Wassalam) bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi mencintai di antara makhluk-Nya orang-orang pilihan, (mereka) tersembunyi, taat, rambut mereka acak-acakan, wajah mereka berdebu dan perut mereka kelaparan. Jika meminta izin kepada pemimpin ditolak. Jika melamar wanita cantik tidak diterima. Jika mereka tak hadir tak ada yang kehilangan dan jika hadir tak ada yang merasa bahagia atas kehadirannya. Jika sakit tak ada yang mengunjunginya dan jika mati tak ada yang menyaksikan jenazahnya.”

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, contohkan pada kami salahsatu dari mereka?” Beliau SAW menjawab: “Itulah ‘Uways al-Qarani.” Para sahabat bertanya kembali: “Seperti apakah ‘Uways al-Qarani?” Beliau SAW menjawab: “Matanya berwarna hitam kebiru-biruan, rambutnya pirang, pundaknya bidang, postur tubuhnya sedang, warna kulitnya mendekati warna tanah (coklat-kemerahan), janggutnya menyentuh dada (karena kepalanya sering tertunduk hingga janggutnya menyentuh dada), pandangannya tertuju pada tempat sujud, selalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri, menangisi (kelemahan) dirinya, bajunya compang-camping tak punya baju lain, memakai sarung dan selendang dari bulu domba, tidak dikenal di bumi namun dikenal oleh penduduk langit, jika bersumpah (berdo’a) atas nama Allah pasti akan dikabulkan. Sesungguhnya di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Sesungguhnya kelak di hari kiamat, diserukan pada sekelompok hamba, “Masukklah ke dalam surga!” Dan diserukan
kepada ‘Uways, “Berhenti, dan berikanlah syafa’at!” Maka Allah memberikan syafa’at sebanyak kabilah Rabi’ah dan Mudhar.”

“Wahai ‘Umar, wahai `Ali! Jika kalian berdua menemuinya, mintalah padanya agar memohonkan ampun bagi kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian berdua.” Maka mereka berdua mencarinya selama sepuluh tahun tetapi tidak berhasil. Ketika di akhir tahun sebelum wafatnya, ‘Umar ra berdiri di gunung Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang: “Wahai penduduk Yaman, adakah di antara kalian yang bernama ‘Uways?”

Bangkitlah seorang tua yang berjenggot panjang, lalu berkata: “Kami tidak tahu ‘Uways yang dimaksud. Kemenakanku ada yang bernama ‘Uways, tetapi ia jarang disebut-sebut, sedikit harta, dan seorang yang paling hina untuk kami ajukan ke hadapanmu. Sesungguhnya ia hanyalah penggembala unta-unta kami, dan orang yang sangat rendah (kedudukan sosialnya) di antara kami. Demi Allah tak ada orang yang lebih bodoh, lebih gila (lebih aneh/nyentrik), dan lebih miskin daripada dia.”

Maka, menangislah ‘Umar ra, lalu beliau berkata: “Hal itu (kemiskinan & kebodohan spiritual) ada padamu, bukan padanya. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Kelak akan masuk surga melalui syafa’atnya sebanyak kabilah Rabi`ah dan Mudhar.” Maka ‘Umar pun memalingkan pandangan matanya seakan-akan tidak membutuhkannya, dan berkata: Dimanakah kemenakanmu itu!? Apakah ia ada di tanah haram ini?” “Ya,” jawabnya. Beliau bertanya: “Dimanakah tempatnya?” Ia menjawab: “Di bukit ‘Arafat.” Kemudian berangkatlah ‘Umar dan ‘Ali ra dengan cepat menuju bukit ‘Arafat. Sampai di sana, mereka mendapatkannya dalam keadaan sedang shalat di dekat pohon dan unta yang digembalakannya di sekitarnya. Mereka mendekatinya, dan berkata: “Assalamu’alayka wa rahmatullah wa barakatuh.” ‘Uways mempercepat shalatnya dan menjawab salam mereka.

Mereka berdua bertanya: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Penggembala unta dan buruh suatu kaum.” Mereka berdua berkata: “Kami tidak bertanya kepadamu tentang gembala dan buruh, tetapi siapakah namamu?” Ia menjawab: ” `Abdullah (hamba Allah).” Mereka berdua berkata: “Kami sudah tahu bahwa seluruh penduduk langit dan bumi adalah hamba Allah, tetapi siapakah nama yang diberikan oleh ibumu?” Ia menjawab: “Wahai kalian berdua, apakah yang kalian inginkan dariku?”

Mereka berdua menjawab: “Nabi SAW menyifatkan kepada kami seseorang yang bernama ‘Uways al-Qarani. Kami sudah mengetahui akan rambut yang pirang dan mata yang berwarna hitam kebiru-biruan. Beliau SAW memberitahukan kepada kami bahwa di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Tunjukkanlah pada kami, kalau itu memang ada padamu, maka kaulah orangnya. Maka ia menunjukkan kepada mereka berdua pundaknya yang ternyata terdapat belang putih itu. Mereka berdua melihatnya seraya berkata: “Kami bersaksi bahwasannya engkau adalah ‘Uways al-Qarani, mintakanlah ampunan untuk kami, semoga Allah mengampunimu.”

Ia menjawab: “Aku merasa tidak pantas untuk memohon ampun untuk anak cucu Adam (‘alayhis-salam), tetapi di daratan dan lautan (di kapal yang sedang berlayar) ada segolongan laki-laki maupun wanita mu’min (beriman) dan muslim yang doanya diterima.” ‘Umar dan ‘Ali ra berkata: “Sudah pasti kamu yang paling pantas.”

‘Uways berkata: “Wahai kalian berdua, Allah telah membuka (rahasia spiritual) dan memberitahukan keadaaan (kedudukan spiritual)ku kepada kalian berdua, siapakah kalian berdua?” Berkatalah `Ali ra: “Ini adalah ‘Umar ‘Amir al-Mu’minin, sedangkan aku adalah `Ali bin Abi Thalib.” Lalu ‘Uways bangkit dan berkata: “Kesejahteraan, rahmat dan keberkahan Allah bagimu wahai ‘Amir al-Mu’minin, dan kepadamu pula wahai putra ‘Abi Thalib, semoga Allah membalas jasa kalian berdua atas umat ini dengan kebaikan.” Lalu keduanya berkata: “Begitu juga engkau, semoga Allah membalas jasamu dengan kebaikan atas dirimu.”

Lalu ‘Umar ra berkata kepadanya: “Tetaplah di tempatmu hingga aku kembali dari kota Madina dan aku akan membawakan untukmu bekal dari pemberianku dan penutup tubuh dari pakaianku. Di sini tempat aku akan bertemu kembali denganmu.”

Ia berkata: “Tidak ada lagi pertemuan antara aku denganmu wahai ‘Amir al-Mu’minin. Aku tidak akan melihatmu setelah hari ini. Katakan apa yang harus aku perbuat dengan bekal dan baju darimu (jika engkau berikan kepadaku)? Bukankah kau melihat saya (sudah cukup) memakai dua lembar pakaian terbuat dari kulit domba? Kapan kau melihatku merusakkannya! Bukankah kau mengetahui bahwa aku mendapatkan bayaran sebanyak empat dirham dari hasil gembalaku? Kapankah kau melihatku menghabiskannya? Wahai ‘Amir al-Mu’minin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu terdapat bukit terjal dan tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap (pemilik) hati (bersih-tulus) yang memiliki rasa takut dan tawakal (hanya kepada Allah), maka takutlah (hanya kepada Allah) semoga Allah merahmatimu.”

Ketika ‘Umar ra mendengar semua itu, ia menghentakkan cambuknya di atas tanah. Kemudian ia menyeru dengan suara lantang: “Andai ‘Umar tak dilahirkan oleh ibunya! Andai ibuku mandul tak dapat hamil! Wahai siapa yang ingin mengambil tampuk kekhilafahan ini?” Kemudian ‘Uways berkata: “Wahai ‘Amir al-Mu’minin, ambillah arahmu lewat sini, hingga aku bisa mengambil arah yang lain.” Maka ‘Umar ra berjalan ke arah Madina, sedangkan ‘Uways menggiring unta-untanya dan mengembalikan kepada kaumnya. Lalu ia meninggalkan pekerjaan sebagai penggembala dan pergi ke Kufah dimana ia mengisi hidupnya dengan amal-ibadah hingga kembali menemui Allah.

Directions:

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.